Beres-beres yuk!

Senangnya melihat Fatih membereskan mainannya sehabis bermain. Satu persatu masuk ke dalam  keranjang. Building block-nya juga sudah rapi masuk dalam kantongnya. Baru kemudian ia datang kepada saya menagih janji. Sebelumnya ia ingin menggambar dengan pensil warnanya,….Eit tunggu dulu! Mainannya kan belum diberesi. Diberesi dulu yuk, habis itu boleh gambar-gambar! Pintaku….Ia pun menurut.

Dari balik jendela kaca riben aku lihat aktivitasnya membereskan mainannya. Sempat aku shoot video juga supaya aku bisa memperlihatkan padanya nanti. Biasanya ia suka sekali kalo melihatnya….di kesempatan lain kalo ia lagi beres-beres ia bilang: “Kayak Fatih di laptop.” Walopun prosesnya agak lama, karena sambil memasukkan mainan ke keranjang ia sempat aja main dengan mainan yang sedang dipegangnya sambil ngomong sendiri. Pegang mobil….(ngeng…ngeng…ngeng), pengang escavator/ mobil keruk…..(ayo…diangkat pake mobil keruk), hingga selesai lah beres-beresnya dengan bantuan mobil keruk.

Kita-kita Ibu rumah tangga tentu senang dunk, kalo melihat anak-anak mau membereskan mainannya sendiri. Setidaknya kita terbantu dengan adanya hal itu, secara pekerjaan seperti ini menguras tenaga dan waktu. Ato keadaan jadi sebalikknya….anak-anak suka bikin rumah berantakan terlebih lagi ga mau bereskan lagi. Dengan sangat terpaksa Ibupun yang memberesi sambil ngomel-ngomel. Masalah beres-beres inilah yang terkadang membuat pekerjaan Ibu tak kunjung rampung. Beres yang disini….pindah lagi anak-anak di ruangan lain mulai eksplorasinya. Nah yang begini nie yang terkadang bikin IRT stress, jenuh, dan melampiaskan kekesalannya ke anak.

Orang mungkin memaklumi keadaan rumah yang berantakan karena keberadaan anak-anak. Mainan berserakan, buku-buku berceceran, peralatan dapurpun kadang jalan-jalan entah kemana, dan lain sebagainya. Tapi coba deh kita berusaha mengubah paradigma ‘beres-beres tak lagi menjadi monopoli para orang tua terkhusus Ibu’. Anak-anak juga perlu dilatih sedini mungkin.

Kata Ida S. Widayanti, seorang penulis buku, beres-beres setelah bermain penting lho. Selain membangun karakter mandiri, disiplin, dan tanggung jawab, beres-berespun juga sangat menstimulasi kecerdasan. Saat beres-beres, anak banyak belajar hal yang penting untuk kehidupannya.

  1. Anak belajar sebab akibat. Ketika ia membuka sebuah kotak mainan dan mengeluarkannya lalu memebereskannya lagi, ia melihat bahwa segala sesuatu yang ia lakukan akan berdampak  pada lingkungan.
  2. Melatih kemampuan klasifikasi. Saat membereskan mainan kita bisa melatih kemampuan anak mengenali bentuk, ukuran dan warna benda lalu mengelompokkannya. Itulah yang dimaksud klasifikasi. Sebuah kemampuan mengasah kognisi anak sekaligus mengenalkan konsep salah dan benar.
  3. Anak belajar tentang mengawali dan mengakhiri (start and finish) sebuah kegiatan. Mereka belajar focus dan tuntas terhadap sebuah kegiatan, serta masih banyak lagi manfaat yang lain.

Masih kata beliau lagi, ada kiat-kiat mengajarkan masalah beres-beres ini pada anak.

Pertama, sejak bayi biasakan anak melihat suasana yang rapi. Penataan pakaian dan mainan yang rapi akan membuat mata anak terbiasa dan merasa nyaman dengan kerapian.

Kedua, biasakan anak-anak melihat proses beres-beres dan jelaskan pada mereka urutannya. Hindari beres-beres saat anak sedang tidur, karena anak akan menganggap segala sesuatu akan beres dengan sendirinya.

Ketiga, ajak anak-anak beres-beres segera setelah bermain. Libatkan secara bertahap dari yang paling sederhana, misalnya memasang tutup mainan atau mendorong laci mainannya.  Selanjutnya, bersamaan dengan meningkatnya usia anak, kita bisa meningkatkan keterlibatan anak dalam beres-beres lebih jauh lagi sampai ia mandiri.

Melatih kebiasaan ‘beres-beres’ sejak dini sangat banyak manfaatnya. Menurut seorang ahli pendidikan, jika anak-anak sudah terbiasa beres-beres dalam hal kongkrit -seperti mainan dan peralatan- kelak ia juga akan terbiasa beres-beres dalam hal yang abstrak. Ketika ada masalah dengan apapun ia akan segera membereskannya (menyelesaikannya). Beres-beres yuk!!!!