My Terrible Two

Akhirnya sampai juga saya menghadapi si ‘Terrible two”. Kata para pakar ada masa-masa dimana seorang anak berubah perilakunya, menjadi lebih agresif dan susah dikendalikan. Senyum yang memberikan kebahagiaan  berganti dengan temper tantrum yang mengesalkan. Tawa yang mengguncang dunia itu berganti dengan rengekan yang bikin pusing kepala. Kaki-kaki kecil itu dapat berlari kemana saja ia mau dan membuat Anda terengah-engah mengejar. Dari orangtua yang bangga dan bahagia, sekarang Anda menjadi polisi yang  kekurangan energi. Masa-masa menggemaskan bayi Anda telah lewat dan mau tidak mau Anda menghadapi masa yang di sebut‘terrible two’. 

Beberapa pekan terakhir ini saya mendapati ada perubahan terhadap perilaku Fatih. Ia yang biasanya penurut, mudah diberi pengertian menjadi susah dikendalikan dan cepat putus asa. Menangis sambil berteriak-teriak kalo keinginannya ga dituruti jadi moment yang sering kali saya hadapi, melakukan hal-hal yang kadang sampai membuat saya berteriak histeris karena khawatir akan bahaya yang menimpanya, situasi yang terkadang  membuat jengkel karena ulahnya, sampai perasaan malu melihat ulah ‘konyolnya’ (pandangan orang dewasa) dan sangat tidak sopan. Kata-kata ‘jangan’ seolah jadi perintah ketika saya sedang melarang. Misalkan, ‘Jangan lari!, eh ia malah tambah ngibrit. Menyiramkan air di makanan ketika kami sedang makan sudah biasa, makanya kami tetap waspada untu tidak menaruh minuman disamping kami. Manjat-manjat kursi, di dekat kompor yang menyala, padahal saya sudah member peringatan akan bahayanya. Membuat ayahny tak bisa berkutik kalo di rumah walo hanya sekedar tilawah ataupun baca buku karena ia hanya ingin main-main dan main kalo ayahnya di rumah……(Sebenarnya Wajar  kalo ia selalu mengajak main kalo ayahnya di rumah, coz seharian hanya bersama Ibunya), Yang paling menggemaskan nih, saat ini tidurnya tambah larut malam…..padahal mata ibunya sudah tinggal beberapa watt, sedangkan ayahnya harus seringkali lembur kalo lagi kena deadline (Lembur di rumah tentu tak bisa, karena setiap pegang lepi seringnya diambil alih Fatih untuk liat kereta api asap). Dan jalan terakhir ayahnya harus ngungsi ke kantor dulu, sampai Fatih bobok. Itupun juga tak lekas bobok, coz ia selalu bermain-main dulu walopun saya sudah beranjak ke tempat tidur ‘pura-pura bobok’.

Selama ini kami memang menikmati setiap polah tingkahnya yang lucu. Celotehnya yang menggemaskan. Tapi sekarang ini ada saja hal yang terkadang membuat kami harus banyak-banyak mengelus dada, beristighfar dan selalu mendoakan atasnya kebaikan.

Pernah suatu ketika,  seperti biasanya ayah Fatih pulang ke rumah untuk makan siang (kebetulan kantornya dekat). Fatih baru saja selesai saya suapi. Jadi saya dan ayah bisa makan siang bareng dalam 1 piring. Kami makan di lantai teras (karena ga ada meja n kursi nih…..dan lebih nyaman lagi walo di teras depan rumah tapi ga kelihatan dari jalan). Tiba-tiba, pas di tengah-tengah acara makan, saya lihat seperti semprotan air, sewaktu saya menoleh kea rah datangnya. Astagfirrullah!!! Fatih buang air kecil ke arah kami hingga kami semua basah berikut makanannya. Kaget!!!.. bukan main….. perasaan jengkel pun ga bisa kami sembunyikan, namun kami coba tetap redam amarah…..(mo marah gimana coba???…..ngomel-ngomel, bentak-bentak, ah tidak bijak rasanya…..He’s just a kid. Acara makan siang sempat tertunda dengan kejadian nih. Baru ketika ketika suasana hati sudah agak reda, kami mencoba member pengertian dia bahwa perbuatan tersebut enggak bagus, ga boleh diulangi. ‘Kan dah di ajari kalo buang air di toilet, ngerti nggak Fatih? Tanyaku kemudian menegaskan. Jawabnya, ‘ngerti’ (sambil pringas pringis)…..^_^

Mungkin tidak hanya kami saja yang mengalami masa-masa sulit bersama si Kecil, tetapi semuanya adalah sebuah proses yang sangat berharga ketika kita bisa melaluinya. Tentu perlu diingat pula, walaupun disebut ‘terrible two’ tidak semua anak merepotkan orangtuanya di usia ini. Berikut, untuk menjadi orangtua yang lebih baik seringkali tidak datang secara alami, dalam arti kita juga harus belajar dan berlatih. Sama dengan anak kita yang belajar untuk mengenal dunia dan menaklukkannya tahun demi tahun, orangtua juga belajar untuk mengembangkan kemampuan parenting mereka.

Bagi yang memiliki anak Batita (1-3) tahun ada baiknya mencoba untuk mempraktekkan teknik-teknik di bawah ini. (Sumbernya liat di sini!)

1. Bangun Pembatas Masa Depan Sekarang

Meskipun setiap anak berbeda dalam menaati batasan yang kita buat tapi kita harus memilikinya. Batasan sebenarnya memberikan rasa aman kepada anak kita. Dengan itu mereka mulai belajar untuk membedakan yang baik dan tidak baik, antara yang boleh dan tidak boleh. Berhasilnya orangtua untuk membuat batasan yang benar, sederhana dan mudah diikuti bukan saja akan mempengaruhi jiwa anak pada saat mereka beusia dua tahun tapi ini juga akan membantu mereka untuk menentukan batasan sepanjang hidup mereka.

2.  Serius Jalankan Atau Tinggalkan

Tetap konsisten tidaklah segampang membuat batasan. Misalnya kita membuat aturan “Makan harus duduk di meja makan”, hari ini bisa dikerjakan tapi belum tentu besok kita akan tetap bertahan dengan aturan ini. Bagaimana dengan satu bulan kemudian? Atau bagaimana kalau anak kita harus diasuh nenek yang punya aturan yang berbeda?

Oleh karena itu jangan pernah membuat aturan jika Anda tidak serius menjalankannya.  Dua atau tiga aturan yang konsisten dijalani lebih baik dari dua puluh tiga aturan yang mudah dilanggar.

3. Ijinkan Einstein Lahir di Rumah Anda

Seringkali rasa ingin tahu anak kita yang berotak Einstein disalahtafsikan sebagai kenakalan. Banyak orangtua yang melarang anak mereka melakukan sesuatu tapi tidak memberikan sarana pengganti untuk menyalurkan bakat jenius mereka.

Ketika anak kami Joel mencoret-coret dinding apartemen sewaan kami yang putih bersih, saya sempat sewot. Saat itu saya belum sepenuhnya menyadari kalau anak kami sedang mencari cara untuk menyalurkan bakatnya. Melarangnya membuat karya seni di dinding adalah benar hanya kalau kita memberikannya  cara lain yang lebih baik. Akhirnya kami memberikan buku gambar, papan gambar, meja gambar, atau apa saja yang dapat mengalihkan perhatiannya untuk menggambar di dinding rumah.

Ijinkan anak-anak kita menyalurkan energi mereka secara positif. Berikan wadah untuk mereka berkarya. Izinkan mereka bermain di luar rumah dan berteriak sesuka mereka jika tempatnya memungkinkan. Bawa mereka ke tempat bermain anak-anak semampu kita dan biarkan mereka mengeksplorasi  dengan bebas. Biarkan mereka menikmati masa kanak-kanak pada waktu mereka masih kanak-kanak. Dan jika kita berkata ‘jangan’, berikan selalu alternatif lain yang ‘boleh’.

4. Wujudkan Kasih Sayang Lewat Tindakan

Saya sering bertemu dengan orangtua yang kelihatannya lebih bermasalah dalam hal tantrumdari anak mereka. Mereka berteriak, membentak, mengancam, bahkan memukul. Tanpa disadari, anak-anak mereka belajar  dari apa yang mereka lakukan. Jangan heran kalau anak-anak ini juga belajar untuk mengkspresikan emosi mereka secara negatif dan penuh kekerasan. Akhirnya, lingkaran setan ini menjadi pola hubungan atara orangtua – anak, atau antara anak dengan teman-temannya.

Orangtua yang tetap tenang dan lembut meskipun anak mereka sedang tantrum, adalah model yang terbaik dalam pembentukan kepribadian anak. Kasih sayang itu lemah lembut dan panjang sabar, sebenarnya prakteknya dapat dimulai dari mendidik anak-anak kita.

Penulis adalah seorang konselor profesional dan juga penulis buku “Turning Hurt Into Hope”(Metanoia 2009).

Saya copas juga dari sini artikel terkait tentang tantrum and terrible two.

Terrible Two

Tangisan anak itu suara musik alam yang indah. Memang kalau mendengar suara
bayi menangis berjam-jam maka akan menimbulkan rasa cemas dalam diri kita,
tetapi kalau anak 2 tahun menangis berjam-jam tidak berhenti padahal segala
cara sudah kita keluarkan untuk membujuknya, biasanya kejengkelan
lingkunganlah yang akan muncul. Pada akhirnya cara kekerasan baik secara
fisik maupun verbal berupa nada ancaman sering dicobakan untuk menjadi
‘senjata pamungkas’.

The Terrible Two adalah julukan yang sering dilontarkan untuk si 2 tahun
yang memang sudah mulai sering menentang dan banyak ulah. Negativistic &
Tantrum yaitu bersikap negatif, semau gue, tidak mau diatur, keras kepala,
di sisi lain suka merajuk, mudah mengamuk dan emosional memang merupakan
ciri perkembangan si 2 tahun. Memang untuk perkembangan sampai usia 5 tahun,
masa 2 tahun merupakan masa yang paling sulit, di mana sering terjadi suatu
transisi dari anak yang manis menjadi anak yang penentang dan terlihat
‘nakal’ di mata lingkungannya. Masalahnya sebenarnya terletak pada orangtua,
bagaimana trik-trik yang dimilikinya untuk ‘mengelola’ anak sehingga menjadi
manis dan penurut kembali.

Menurut Hans Grothe, seorang psikolog perkembangan dari Jerman, sebenarnya
tangisan dan teriakan tantrum anak ternyata tidak berkaitan dengan usia. Tak
hanya si 2 tahun yang melakukannya, si 3 atau 5 tahun pun kadang-kadang
masih melakukannya. Memang frekuensi yang terbanyak adalah pada si 2 tahun.
Menurutnya ada 3 kunci untuk meredakan tangisan anak yaitu ketenangan,
ketenangan dan ketenangan. Tentu saja dalam tiga tataran yang berbeda-beda.
Dan kemampuan ini tidak begitu saja jatuh dari langit melainkan para
orangtua harus melatih dan belajar melihat reaksi anak.

Menjadi orangtua sebenarnya seperti seorang peneliti di laboratorium.
Mencoba sebuah formula pola asuh, memecahkan masalah sesuai dengan budayanya
serta kemudian melihat reaksi yang terjadi dengan dicobakan formulanya.
Apabila tidak cocok dan reaksi buruk maka harus dicobakan formula yang lain
sampai cocok. Dan biasanya formula yang cocok untuk satu anak belum tentu
cocok untuk anak yang lainnya. Jadi berlatih dan belajar menjadi peneliti
adalah tugas orangtua agar sukses mendidik anak-anaknya. Beberapa formula
ini silakan dicoba.

Tenang, Tenang dan Tenang
Kunci meredakan tangisan dan teriakan anak adalah bersikap tenang dan tidak
perlu tergesa-gesa. Tidak perlu panik dan jengkel bila si 2 tahun meledak
tangisnya. Orangtua yang nampak gelisah atau memendam kemarahan tentu akan
sulit menerima kondisi si kecil yang juga sedang tidak nyaman dengan
tangisannya sendiri. Anak membutuhkan figur yang tenang dan mampu
mengendalikan emosinya ketika mendekati anak. Kontrol emosi Anda akan
membuat suatu ruang toleransi apapun reaksi tambahan yang akan dikeluarkan
anak. Latihan bagi para orangtua untuk mencapai ketenangan adalah dengan
pernafasan perut, minum segelas air putih, mencuci muka dan yang penting
empati pada keadaan anak bahwa kita harus membantunya keluar dari tangisan
dan situasi yang sedang tidak mampu dikendalikannya.

Sentuhan
Bagi anak, ketenangan dapat dicapai dengan mudah melalui suatu sentuhan.
Jadi apabila Anda tenang dan siap menghadapi si 2 tahun tanpa bersikap
emosional, belaian pada rambut usapan pada punggung, memeluknya ke pangkuan
atau menggedongnya ke tempat yang lebih tenang, akan menenangkannya segera.

Meskipun demikian kalau tangisan menghantam emosinya begitu kuat terhadang
sentuhan justru mengganggunya dan membuatnya marah, tentu jangan memaksa.
Biarkan kemarahannya reda terlebih dalu, berikan waktu anak meredakan emosi
dan kemarahan serta ketidaknyamanan yang dirasakannya. Lalu pelan-pelan dan
setahap demi setahap dekati dan tunjukkan ketenangan dan sentuhan Anda.

Alihkan Perhatian dan Bersikap ”Tuli”
Sekali lagi perlu diingat 2 tahun adalah masa sulit, dan penuh tantangan.
Terkadang anak begitu sukar dikendalikan, bahkan menolak untuk disentuh atau
diberi perhatian. Sekali lagi jangan memaksakan diri. Cara yang jitu menurut
banyak ahli perkembangan anak adalah bersikap ”tuli” pada tangisannya dan
mengalihkan perhatian kita agar tidak terganggu dengan tangisannya. Misalnya
pura-pura ke dapur untuk memasak, memperhatikan burung yang terbang atau
mengomentari mobil yang lewat. Untuk itu diperlukan kecepatan berpikir dan
improvisasi kita. Biasanya anak akan terpengaruh dan melupakan tangisannya
karena tertarik dengan hal baru di sekitarnya. Selamat melatih diri untuk
menjadi orangtua yang tenang, tenang, dan tenang…!

 

10 thoughts on “My Terrible Two

  1. iya…..memang harus selalu sabar. memohon kepada allah supaya diberi petunjuk. anak kan juga menjadi ujian juga bagi orang tua. jazakillah khoir

  2. memang harus berlipat-lipat kesabarannya. Berusaha tegas….eh jadinya malah kelihatan galak…..hehe…. Alhamdulillah kalo yang mmalukan tue dah ga lagi….tapi mesih aktiv banget

  3. lum bisa bayangkan umm…..lum terlewati. semoga nanti bisa lebih berpengalaman ketika menghadapi si kecil. Mungkin seiring dengan berkembangnya kemampuan Fatih untuk berkomunikasi….semuanya bisa kami jalani dengan lebih enjoy…..
    Iya….saya link balik ya….

Comments are closed.