Radang Amandel

Deg-degan kalo Fatih kena demam. Rasanya masih trauma juga karena  dulu pernah opname. Mungkin bukan kami saja but Fatihnya juga. Setiap melihat dokter ato orang berseragam perawat dah keburu ia minta pulang n bilang “ Ga mau disuntik…..ga mau disuntik!”. Padahal ya Cuma diperiksa aja…..but yang namanya anak-anak….

Ada lagi nih sakit Fatih stelah seminggu sembuh dari campak. Kami mengira Cuma demam biasa, mo pilek ato kecapekan soalnya sehari sebelum demam kami mengajaknya  ke Madura naik kapal. Qodarullah….besoknya demam sampai 39 derajat. Pertolongan pertama saya beri penurun panas, alhamdulillah panasnya bisa turun. Tapi setelah reaksi obatnya hilang demam tinggi lagi. Kalo dah gini biasanya Ia susah lagi makannya.

Semalaman ga bisa tidur, karena sepertinya hidungnya tersumbat seperti mau flu.Saya olesi dada, tenggorokan, dan punggungnya dengan minyak kayu putih, mungkin bisa meringankan gejala flu-nya. Tapi nggak ngefek juga. Dan kali ini  saya merasa heran, kalo Fatih flu nggak sampai terdengar orokan. Lah ini, kok anaknya ngorok . Setiap saya tidurkan dalam posisi terlentang, terdengar jelas dan bernafasnya lewat mulut, kalo saya tidurkan dengan posisi miring ia ngiler….(sebenarnya tidur biasa pun ia juga seringkali ngiler….hehe) but ini ngilernya banyak sekali….What’s wrong with you, Fatih?. Saya tinggikan posisi bantalnya, tetep sama. Dan akhirnya ia lebih nyaman dengan tidur dalam gendongan saya.

Saya coba cek dan amati ketika ia tidur. Mungkin saja ia sariawan di bibir atao gusinya dan sepertinya enggak. Tapi saya liat ada semacam selaput putih di langit-langit mulutnya, dan warna putih di permukaan lidahnya. Ehm…mungkin karena mimik susu, pikirku. But seharian nih ia ga mimik susu, untuk menelan saja sepertinya ia kesulitan.  Ga kemasukan makan dan minum seharian kecuali air putih. Saya coba amati lebih teliti, karena seperti ada yang berbeda dengan wajah Fatih. Apa ya?….Kemudian saya bilang ke ayah Fatih, kok pipi Fatih kelihatan gemuk ato lebih mirip dengan kena gondong. Ia  mengiyakan dan nambahi info kalo suaranya juga berubah, kelihatan besar waktu berbicara tadi sore. Kenapa ya??….Akhirnya semalaman ga juga bisa tidur, Fatih sebentar-bentar bangun minta gendong.  Bersyukur Ayahnya juga nemani bergadang sambil nglembur tugas-tugas kantornya.

Keesokan harinya masih demam. Rencana mo saya periksakan ke dokter anak, but hari ini pas libur. (Saya bilang ke ayah Fatih,”Kok pas Fatih sakit, mesti juga pas libur ya”)… Kayaknya gejala sakitnya makin banyak nih, suara Fatih semakin terdengar ga jelas n tambah celat, ngileran,panasnya masih sekitar 39 derajatan, susah nelan, bawah rahang terlihat lebih besar kaya leher sapi. Nah yang terakhir nie saya sempat cek ketika Fatih tidur seperti ada pembengkakan di bagian dalam hidung. Ehm mungkin kena sinusitis. Akhirnya dengan tanda-tanda itu saya coba googling di internet tentang sinusitis. But yang lebih mendekati dengan gejala sakit yang dialami Fatih adalah Tonsilitis/ radang amandel.

Saya coba hubungi dokter anak walopun saya tahu hari libur tutup. But Alhamdulillah beliau bersedia memeriksa di rumahnya.  Sorenya saya bawa ke dokter dan ternyata benar Fatih kena tonsilitis. Kata dokter radang amandelnya dah besar , cuma masih bisa diobati pake antibiotik dulu. Dalam waktu 3 sampai 4 hari Insya Allah dah sembuh. Alhamdulillah sebelum obatnya abis kurang lebih 3 hari, Fatih dah pulih.

Tonsilitis nie penyebabnya bisa bakteri atau virus. Selengkapnya bisa baca artikel di bawah ini. Saya copas  dari sini.

Radang amandel (tonsillitis) adalah infeksi pada amandel yang kadang-kadang mengakibatkan sakit tenggorokan dan demam.

Secara klinis peradangan ini ada yang akut (baru), ditandai dengan nyeri menelan (odinofagi), dan tidak jarang disertai demam. Sedangkan yang sudah menahun biasanya tidak nyeri menelan, tapi jika ukurannya cukup besar (hipertrofi) akan menyebabkan kesulitan menelan (disfagia)

Kapan amandel harus dibedah? Para ahli masih belum satu pendapat mengenai ini, namun umumnya literatur klinik membagi indikasi pembedahan radang amandel (tonsilektomi) atas 2 yaitu:

  1. Absolut (mutlak: harus dibedah)
  2. Relatif (tidak mutlak: sebaiknya dioperasi)
  • merah dan / atau bengkak amandel
  • putih atau kuning patch pada amandel
  • tender, kaku, dan / atau leher bengkak
  • sakit tenggorokan
  • sulit menelan makanan
  • batuk
  • sakit kepala
  • sakit mata
  • tubuh sakit
  • otalgia
  • demam
  • panas dingin
  • hidung mampet

Tonsilitis akut disebabkan oleh bakteri dan virus dan akan disertai dengan gejala sakit telinga saat menelan, bau mulut, dan air liur bersama dengan radang tenggorokan dan demam. Dalam hal ini, permukaan tonsil mungkin merah cerah atau memiliki lapisan putih keabu-abuan, sedangkan kelenjar getah bening di leher akan membengkak.

Penyebab

Yang umum menyebabkan sebagian besar tonsilitis adalah pilek virus ( adenovirus, rhinovirus, influenza, coronavirus, RSV ). Hal ini juga dapat disebabkan oleh virus Epstein-Barr, herpes simpleks virus , cytomegalovirus, atau HIV. Yang paling umum menyebabkan kedua adalah bakteri. Para bakteri penyebab umum paling adalah Group A-hemolitik streptokokus β ( GABHS ), yang menyebabkan radang tenggorokan. Kurang bakteri penyebab umum termasuk: Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, pertusis, Fusobacterium , difteri, sifilis, dan gonore. Dalam keadaan normal, seperti virus dan bakteri masuk ke dalam tubuh melalui hidung dan mulut, mereka disaring di amandel. Dalam amandel, sel-sel darah putih dari sistem kekebalan tubuh me-mount sebuah serangan yang membantu menghancurkan virus atau bakteri, dan juga menyebabkan peradangan dan demam. Infeksi juga mungkin ada di tenggorokan dan sekitarnya, menyebabkan peradangan pada faring. Ini adalah area di bagian belakang tenggorokan yang terletak di antara dalam kotak suara dan tonsil. Tonsilitis dapat disebabkan oleh bakteri streptokokus Grup A, mengakibatkan radang tenggorokan. Viral tonsillitis mungkin disebabkan oleh berbagai virus [10] seperti virus Epstein-Barr (penyebab infeksi mononucleosis ) atau adenovirus. Kadang-kadang, tonsilitis disebabkan oleh infeksi dari spirochaeta dan Treponema, dalam hal ini disebut ‘s angina Vincent atau-Vincent angina Plaut.

Pengobatan

Perawatan untuk mengurangi ketidaknyamanan dari gejala tonsillitis meliputi:

  • rasa sakit, anti-inflamasi, demam mengurangi obat (acetaminophen, ibuprofen)
  • sakit tenggorokan lega (obat kumur air garam, belah ketupat, cairan hangat)

Jika tonsilitis disebabkan oleh kelompok A streptococus , maka antibiotik yang berguna dengan penisilin atau amoksisilin baris pertama sedang. Sebuah macrolide seperti eritromisin digunakan untuk pasien yang alergi terhadap penisilin. Pasien yang gagal terapi penicilin mungkin menanggapi pengobatan yang efektif terhadap lactamse memproduksi bakteri-beta seperti klindamisin atau amoksisilin-klavulanat . Aerobik dan anaerobik beta penghasil laktamase bakteri yang berada di jaringan tonsil dapat “perisai” kelompok A streptokokus dari penicilins. Bila tonsilitis disebabkan oleh virus, panjang penyakit tergantung pada virus mana yang terlibat. Biasanya, pemulihan lengkap dibuat dalam satu minggu, namun dapat berlangsung selama dua minggu. kronis kasus dapat diobati dengan tonsilektomi (operasi pengangkatan tonsil) sebagai pilihan untuk pengobatan.

Komplikasi

Komplikasi jarang mungkin termasuk dehidrasi dan gagal ginjal karena kesulitan menelan, saluran udara diblokir karena peradangan, dan faringitis karena penyebaran infeksi. Suatu abses dapat mengembangkan lateral tonsil selama infeksi, biasanya beberapa hari setelah terjadinya tonsilitis. Hal ini disebut sebagai abses peritonsillar (atau quinsy). Jarang, infeksi bisa menyebar di luar tonsil mengakibatkan peradangan dan infeksi pada vena jugular internal yang memunculkan suatu menyebarkan septicemia infeksi ( ‘s sindrom Lemierre ). Dalam kronis / kasus berulang (umum didefinisikan sebagai tujuh episode tonsilitis pada tahun sebelumnya, lima episode di masing-masing dari tahun sebelumnya dua atau tiga episode di masing-masing tahun sebelumnya tiga), atau di kasus akut tonsil palatina dimana menjadi begitu bengkak yang menelan terganggu, sebuah tonsilektomi dapat dilakukan untuk menghilangkan amandel. Pasien yang amandel telah dihapus masih dilindungi dari infeksi oleh sisa dari sistem kekebalan tubuh mereka. Dalam kasus yang sangat jarang radang tenggorokan, penyakit seperti demam rematik atau glomerulonefritis dapat terjadi. Komplikasi ini sangat jarang terjadi di negara-negara maju, namun tetap menjadi masalah yang signifikan di negara-negara miskin. Tonsilitis berhubungan dengan radang tenggorokan, jika tidak diobati, juga dapat menyebabkan gangguan neuropsikiatrik pediatrik autoimun terkait dengan infeksi streptokokus ( panda ). Tonsilloliths terjadi pada sampai 10% dari populasi sering karena episode tonsilitis.