Bu Guru Nganggur

Suami dah pamitan mau tugas ke Jakarta. Seperti biasa, tiap ada acara ke luar kota apalagi nginep Ia selalu pamitan juga sama Ibu Jombang (ibu suami yang sekarang juga dah jadi ibu saya….hehe). Dan dah biasa juga, ibu dan bapak pasti langsung berangkat ke Surabaya untuk menemani saya dan Fatih. Walopun kerjaan Ibu di rumah menumpuk, karena beliau ada usaha konveksi yang setiap hari harus melayani pesanan pelanggan. But beliau rela meinggalkannya demi menemani kami.  Tapi ya tetap beliau control jarak jauh pekerjanya……Saya katakan….Marvelous…marvelous!..

Sebenarnya kalo saya sendiri sih tak apa ditinggal di rumah sendiri, but Ibu yang merasa ga tega. Khawatir kalo ada apa-apa, ga ada temannya. Kalo satu dua hari tak masalah, but kalo Ayah Fatih lum pulang juga akhirnya saya diajak ikut pulang Jombang.

Iyang Bapak dan Iyang Ibu (ini bahasanya cucu-cucu J ) tiba di Surabaya jam delapan malam dengan naik bis. Liat ekspresi Fatih ketika dijenguk Eyang…..wuih senang sekali. “Iyang datang…..Iyang datang!… teriaknya sambil ketawa-ketawa. Lucu melihat polah tingkah Fatih yang girang karena Iyang datang, segera ia mengajak bermain-main. Ga tahu Eyang capek abis perjalanan, dasar anak kecil…. ^_^

Langsung deh ia memperlihatkan apa yang dipunyai. Ia tunjukkan buku-bukunya sambil menyebutkan nama-namanya. Ia tunjukkan lapbook buatan ibunya, kemudian ia bermain-main dengannya. Diambilnya dadu flanelnya. Pokoknya terlihat banget kalo ia sedang pamer. Polos sekali!!  Iyang bapak kemudian berkomentar tentang tabiat anak-anak yang memang suka pamer. Hehe…sebenarnya orang dewasa juga suka pamer tapi cara mengungkapkannya berbeda.

Iyang Bapak dan Iyang Ibu kelihatan capek banget. But heran nih….biasanya jam Sembilan Fatih dah bobok. Ini…..dah hampir jam sepuluh matanya masih bening, lum ada tanda-tanda ngantuk. Masih semangat dengan mainannya yang kebanyakan buatan Ibunya…J. Ia nunjukkan boneka jari dari flannel yang saya buat. Biasanya saya gunakan saat bercerita. Ia suka kalo dibacakan cerita, serius sekali mendengarkan. Iyang ibu berkomentar, “Ibu’e Fatih kreatif!……mainan buat sendiri…… Oo, pancen Bu Guru nganggur!” (Saya mendengarnya Cuma senyum-senyum aja)…

Hehe….dibilang ‘nganggur’,….enggak juga. Setidaknya saya jadi Bu Gurunya Fatih. Setiap hari berusaha memberikan yang terbaik buat ia. Berusaha menjawab dan memenuhi rasa keingintahuannya, karena saat-saat inilah saya sedang dibutuhkan.

Sebenarnya wajar juga Ibu berkata seperti itu, coz gelar sarjana pendidikan yang saya dapat idealnya bisa jadi bekal mengajar di sebuah institusi bernama ‘Sekolah’, seperti aktivitas saya sebelum menikah dulu. But, jangan khawatir Ibu! Kami juga punya rencana di masa depan, dan kami yakin apa yang kami lakukan adalah yang terbaik bagi keluarga. Jadi tak apalah, kalo saat ini di bilang ‘Bu Guru Nganggur’ J