Ladang Pahala

Seorang Ibu berteriak dengan keras melarang anaknya yang sedang bermain pasir. “Kotor!” bentaknyakepada anaknya yang terlihat baru saja mandi. Namun si anak masih asyik bermain tanpa menghiraukan bentakan Ibunya. Dengan serta merta si Ibu mendatangi anaknya kemudian menarik tangannya. Tetapi anaknya tak bergeming, hingga kemudian Si ibu mencubitnya hingga ia menangis kesakitan.

Kejadian lain yang sempat aku lihat di lingkungan dekat dengan tempat tinggalku, seorang Ibu marah-marah sembari memukul anak laki-lakinya (usianya kurang lebih 5 tahun) dengan kayu karena ia berendam di kubangan lumpur bekas air hujan. Walaupun si anak meraung kesakitan dan sudah meminta ampun, namun hal itu tak menghentikan perbuatannya. Tak pelak kejadian itu mengundang perhatian orang yang melintas, termasuk aku yang saat itu berada di depan rumah.
OK lah. Mari sejenak kita merenung untuk apa sebenarnya Allah memberi kita karunia berupa anak? Tujuan apa yang hendak kita capai ketika kita berupaya mendidik anak?

Allah mengkarunia kita anak tentu punya tujuan, supaya kita bisa menjaga keberlangsungan nasab kita. Anak-anak juga menjadi perhiasan, penyenang hati bagi sepasang suami istri. Menjadikan hidup lebih sempurna dengan keberadaan canda dan tawa mereka. Bukankah hal itu yang juga wajib kita syukuri dengan memberikan pendidikan yang terbaik buat mereka. Pendidikan yang bertujuan untuk mencari keridhaan Allah ta’ala demi usaha mendapatkan SurgaNya serta keselamatan dari api neraka dan mengharapkan pahala dari-Nya.

Mereka adalah anak-anak kita yang sudah sepatutnya kita sayangi, bukan berarti selalu dimanja (over indulgent), akan tetapi dengan memperlakukan mereka secara baik bahkan ketika mereka melakukan perbuatan yang menurut kita tidak baik. Bukan berarti kita mentoliler perbuatan buruk mereka dan tak memberi hukuman atasnya. Tetapi bagaimana kita bisa menempatkan posisi dimana kita harus tegas dan juga berlemah lembut.
Memberikan hukuman fisik terhadap mereka justru akan memberikan peluang bagi mereka untuk terus membangkang dan berusaha untuk menjauh dari orang tua. Ketidakberdayaan mereka secara fisik karena orang tua tentu lebih besar dan kuat, menjadi alasan mereka untuk takut sehingga dengan keterpaksaan anak-anak menurut pada orang tua.

Anak-anak adalah ladang pahala buat kita, mereka adalah benih-benih kebaikan yang akan kita tuai di hari kemuadian. Bagaimana kita mendidiknya saat ini, yang akan kita panen di kemudian hari. Ibarat seorang petani yang mengolah ladangnya dengan baik, memilih benih yang terbaik, menyemaikannya di ladang yang disediakan dengan baik pula, mengairi secara teratur, menghilangkan rumput liar yang mengganggu, maka ia akan mendapatkan hasil yang melimpah dengan izin Allah.
Begitu halnya dengan anak-anak kita. Kita memilih pasangan kita yang terbaik agar mendapatkan benih yang baik pula. Menempatkan mereka di lingkungan yang baik, memberikan pendidikan dan pengasuhan yang baik, memperlakukannya dengan perlakuan yang mendidik, menjauhkan dari hal yang hendak mengganggu mereka. Maka dengan ijin Allah kita akan dapatkan yang terbaik atas apa yang telah kita usahakan yaitu anak-anak yang sholih dan sholihah.

Anak-anak adalah da’I penerus di masa depan, mereka akan menjadi pemimpin di masa mendatang maka sudah sepantasnya kita mendidik pemimpin masa depan kita dengan pendidikan yang baik. Kelalaian dalam mendidik anak merupakan sebab terhalangnya masuk surga.
“ Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab kepemimpinannya oleh Allah kemudian pada saat ia meninggal, ia curang terhadap yang dipimpinnya, melainkan Allah mengharamkan baginya Surga.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Kebaikan orang tua merupakan kebaikan bagi anak dan ketakwaan orang tua akan menjadikan anak terjaga serta senantiasa mendapat rizki setelah kematian orang tuanya, Insya Allah. Upaya orang tua yang selalu membalut mereka dengan pendidikan dan akhlaq yang baik merupakan ladang pahala yang akan kita tuai dengan hasil yang melimpah pula. Semoga Allah memberi kita taufik dan hidayah dalam mendidik ana-anak kita. Aamiin.

2 thoughts on “Ladang Pahala

  1. bismillah, iya ummi… hikss… mungkin karena si ibu yang terlalu emosinya, dan keterbatasan ilmu nya sehingga beliau kurang bisa mengendalikan diri. maka kenapa kita tak boleh berhenti untuk terus bertholabul ilmy.

    syukron ya ….)*tukeran link yukk? mi pasang di blog mi ya…
    salam kenal dari ismi di jogja🙂

  2. assalamu’alaikum….
    salam kenal juga dari saya di surabaya. Sudah jadi perkara wajib untuk kita selalu berthalabul ilmi. Semoga Allah mempermudah segalanya…..
    Iya….saya link blog anti ya….jazakillah khoir katsir….Anti jogjanya mana?

Comments are closed.