Peniru Handal

Pagi itu seorang Ibu dan anaknya yang berusia 20 bulan sedang berada di depan rumah. Kemudian datang peminta-minta berdiri di luar pagar. Demi melihat peminta-minta itu, Si Ibu masuk rumah untuk mengambil uang, begitu juga anaknya yang mengikuti di belakang. Diambilnya uang dari dompet. Ups…ada uang recehan yang jatuh! Si anak kemudian mengambilnya dan bergegas lari keluar rumah. Karena penasaran Si Ibu mengikutinya dari belakang, melihat apa yang akan dilakukan buah hatinya. Ternyata Ia memberikan uang itu kepada peminta-minta.

Moment seperti ini bisa jadi luput dari perhatian orang tua karena begitu banyaknya pekerjaan dan kesibukan mereka, tapi sebenarnya bisa jadi bahan pembelajaran dan juga evaluasi dalam mendidik anak. Penting bagi orang tua untuk menaruh perhatian yang besar untuk anak-anaknya khususnya dalam masa tumbuh kembangnya. Ketergantungan anak usia batita masih begitu besar, sehingga pola asuh yang baik terhadap mereka perlu diterapkan. Baik itu dari segi perilaku, pola makan, penanaman etika, pengembangan emosional dan lain-lain.

Tanpa penuturan kata ataupun perintah, anak-anak sebenarnya bisa melakukan apa saja, tergantung apa yang biasa ia lihat sehari-hari. Termasuk peristiwa tersebut di atas, karena ia senantiasa melihat orang-orang disekitarnya melakukan perbuatan itu ia pun melakukan hal yang sama. Ia meniru apa saja yang dilakukan orang terdekatnya. Bisa jadi anak-anak belum benar-benar memahami apa yang sebenarnya mereka lakukan, tetapi mereka menyaksikan dan melakukan apa yang diperbuat oleh orang terdekatnya. Tentu ini menjadi PR bagi orang tua untuk bisa menampilkan potret kehidupan yang baik bagi putra-putri mereka. Mengajarkan kebiasaan baik pada anak adalah tugas orang tua, sedangkan tugas anak yaitu mempraktikkannya hingga hal tersebut menjadi bagian dari kebiasaannya.

Keteladanan tentu menjadi hal yang wajib dicontohkan kepada anak. Warna-warni kebaikan, seperti shalat, bersedekah, belajar sungguh-sungguh, kebiasaan beradap dan beretika yang baik, dan lain-lain yang seharusnya mereka lihat. Lingkungan tentu juga punya peran besar dalam pembentukan sikap dan perilaku. Anak-anak tidak hanya besar karena orang tua, karena lingkungan juga ikut membesarkannya. Bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan anak jika apa yang dilihat sehari-hari adalah perilaku buruk, kekerasan dan perilaku destruktif lainnya. Apa yang diucapkan anak jika yang mereka dengar adalah kata-kata kotor, cacian, dan makian. Tentu saja apa yang disaksikan, yang didengar yang akan direfleksikan pada tindak tanduk mereka, karena anak adalah peniru yang handal.

Dengan tahu kecenderungan anak yang suka meniru, tentu orang tua harus lebih paham untuk menampilkan sikap dan perilaku yang sebaik-baiknya. Menempatkan mereka di lingkungan yang sarat dengan hal yang mendidik. Sayangnya begitu banyak para orang tua yang seringkali lalai, atau bahkan kita sendiri sebagai orang tua tanpa sadar melakukan hal yang seharusnya tak pantas untuk dilakukan apalagi kalau sampai ditiru anak-anak kita. Memperbaiki sikap dan perilaku bukanlah hal yang tabu bagi orang tua. Siapa saja yang mau menyimpan investasi anak-anak shaleh dan shalehah tentu tak harus malu merubah diri menjadi pribadi-pribadi yang siap memperbaiki diri. Dan hanya dengan memohon kepada Allah, Semoga Allah memberikan keikhlasan, keistiqomahan kepada kita dalam mendidik anak.