Melatih Anak Berbicara

Secara alami semua anak belajar berbicara untuk mengungkapkan maksudnya. Perkembangan bahasa anak-anak berbeda-beda satu sama lain, satu anak mungkin lebih cepat bisa berbicara atau berada di bawah statistik rata-rata perkembangan yang dicapai anak-anak lain. Ada banyak factor yang menyebabkan terhambatnya kemampuan ini. Gangguan fisik dan psikologis yang serius bisa menghambat perkembangan kemampuan ini. Bisa juga karena kerusakan yang terjadi di bagian otak dimana area bahasa terletak menyebabkan kesulitan dalam berbicara, membaca dan menulis kelak ia dewasa. Faktor lain yang juga jadi penyebab keterlambatan dalam berbicara yaitu kurangnya stimulus dari orang tua.

Anak-anak biasanya mulai mengucapkan kata-kata pertamanya di usia sekitar 10-12 bulan. Mereka mulai menirukan bunyi-bunyi yang diucapkan oleh orang dewasa. Kata-kata pertama yang diucapkannya bisa menunjukkan kemampuan anak mengontrol alat bicara dan menghubungkan bunyi-bunyi dengan obyek atau benda dengan tepat. Misalkan, kata mama yang diucapkan oleh anak ketika ia melihat ibunya, kata mimik ketika ia berkeinginan untuk minum. Perbendaharaan anak di usia 1 tahun baru sekitar 100 kata, sehingga masih butuh waktu untuk bisa memahami perkataan orang dewasa.

Orang tua dalam hal ini bisa melakukan upaya untuk membantu si buah hati belajar mengungkapkan maksudnya melalui komunikasi verbal. Nah, tips berikut aku coba praktekkan pada si kecil. Sebenarnya tak kurang-kurang saya ataupun ayahnya ga pernah diem kalo sama si kecil. Di usianya yang ke 20 bulan nie, ia baru bisa bilang ayah, ibu, pipis, nenek (bab), mimik, jatuh, layangan, air, bubuk, dan lain-lain. Tapi, Insya allah tidak ada gangguan fisik ataupun psikologis yang menyebabkannya.

Menatap wajahnya
Seorang anak akan lebih senang ketika orang tua benar-benar memperhatikan dan menyimaknya ketika anak berusaha mengutarakan maksudnya. Bentuk perhatian ini bisa dengan menatap wajahnya dan membenarkan kesalahan anak dalam mengucapkan kata. tanpa harus memaksa mereka untuk bisa saat itu juga. Beri kesempatan mereka untuk bisa melihat gerak mulut kita sehingga mereka juga berkesempatan belajar dengan melihat gerak mulut dan kemudian menirukannya. Sebaiknya tidak berbicara sambil lalu atau berbicara dari ruangan lain.

Tidak menggunakan bahasa bayi
Ucapan anak-anak sangat berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak secara jelas bisa mengidentifikasi kata-kata yang tidak bisa mereka ucapkan karena begitu kompleknya kata tersebut. Misalkan, “bebek” diucapkan “bebe”. Anak-anak berusaha mengucapkan kata-kata dengan benar, namun kebanyakan mereka ada yang masih cadel. Misalkan “susu” jadi “cucu”, “sayang” diucapkan “cayang”. Nah orang tua dalam hal ini tidak harus ikut-ikutan menggunakan bahasa anak/bayi, sebaiknya membetulkan dengan mengulanginya, ” Adik mau susu?”, “O, bebek”.

Berbicara perlahan
Berbicara pada anak berbeda dengan berbicara dengan orang dewasa. Perbendaharaan katanya masih sedikit, sehingga butuh waktu untuk mereka untuk belajar memahami setiap perkataan. Sebaiknya berbicara perlahan sehingga ia punya kesempatan untuk memahami, memprosesnya di otak dan akhirnya ia juga ikut mengucapkannya.

Ajukan pertanyaan dan beri perintah
Anak-anak masih belajar mengidentifikasi hal-hal yang ada disekitar mereka. Ajukan pertanyaan mengenai hal yang paling disukainya, misalnya kata-kata benda di sekitar mereka atau aktivitas yang biasa dilakukannya ( misalkan mimik, duduk, berdiri, dan lain-lain). Tanyakan “apa ini?, dan tunjukkan bahwa kita menunggu jawaban mereka. Hindari mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi, sebelum ia sempat menjawabnya. Pertanyaan yang sama dan terus diulang-ulang dalam rentang waktu yang terlalu dekat bisa membuat anak bosan menjawabnya. Anak-anak memahami benar apa yang kita bicarakan dan juga perintahkan. Mintalah mereka dengan sopan untuk melakukan sesuatu yang mudah.

Gunakan kata-kata populer
Jangan memaksa anak berbicara dengan kata-kata yang tak biasa digunakan di usia mereka yang masih kecil. Menjejali dengan kata-kata asing atau yang tidak populer tidak membantu anak untuk menambah perbendaharaan mereka. Apalagi kebiasaan orang tua yang berusaha menggunakan bahasa gado-gado/ campuran, misalnya Inggris-Indonesia. Cara ini tidak membantu anak menguasai kedua bahasa tersebut, karena secara gramatikal berbeda.

Ekspresif
Ekspresi orang tua yang datar ketika berbicara ternyata tidak menarik perhatian anak. Menggunakan nada riang lebih efektif untuk membuat anak memusatkan perhatian pada apa yang kita bicarakan.Gunakan kalimat sederhana yang mudah ia pahami dan berilah penekanan pada kata-kata tertentu, yaitu pada kata-kata yang ia masih kesulitan untuk mengucapkannya. Untuk memperjelas maksud dari perkataan, bisa juga dengan menggunakan bahasa tubuh. Misalkan ketika orang tua hendak pergi disertai dengan lambaian tangan.

Narasikankan
Kebersamaan dengan si kecil bisa kita jadikan momen untuk bisa membangun hubungan dan komunikasi dengan mereka. Misalnya ketika menyiapkan makanan mereka, aktivitas yang dilakukan bisa dinarasikan. Misalnya, Ibu ambilkan makan siang buat adik ya. Ibu ambil nasi, terus ditaruh piring. Sekarang dikasih lauk dan juga sayurnya. Cara seperti ini juga efektif untuk menghindari anak rewel karena terlalu lama menunggu. Dengan menarasikan aktivitas yang sedang dilakukan anak akan merasa tidak terabaikan karena mereka dilibatkan di dalamnya.

Sumber:
Majalah Ayahbunda edisi 13/2009
Image: speechclinic.wordpress.com

2 thoughts on “Melatih Anak Berbicara

Comments are closed.