Rasa Takut pada Balita

Maksud hati ingin membuat senang si buah hati dengan membelikan bola. Karena si Ibu berfikiran, sia anak bisa melakukan banyak permainan dengan bolanya. Lempar tangkap bola, bermain sepak bola, bermain bowling, dan lain sebagainya. Alih-alih anaknya merasa gembira, ternyata ia malah takut dengan bola yang barusan dikeluarkan ibunya dari plastiknya. Setiap kali didekatkan kepadanya, ia malah menjerit ketakutan dan berusaha menghindar dari benda berbentuk bulat tersebut.

Rasa takut seperti yang dialami oleh anak tersebut sebenarnya merupakan hal yang wajar. Karena mereka belum mengetahui hakikat sesuatu. Adanya keanehan bentuk dari suatu benda, mempunyai pengalaman buruk terhadap sesuatu (misalnya disuntik, dimasukkan ke ruangan gelap, dan lain-lain), meniru ketakutan orang tuanya atau memang sengaja ditakut-takuti dengan hal-hal tertentu juga menjadi sebab timbulnya rasa takut. Adapun setiap anak mempunyai perasaan takut yang berbeda-beda satu sama lain. Ada mereka yang takut pada hewan, takut kegelapan, takut berenang, takut dokter, takut masuk sekolah, takut berpisah dengan orang tua, dan lain

Ketakutan yang bersifat tabi’at seperti takut pada binatang buas tentu bisa dimaklumi. Tetapi ketakutan yang sengaja dibuat sebagai bagian dari ancaman supaya anak menurut dengan kemauan orang tua memang harus dikoreksi. Orang tua terkadang merasa sukses besar dengan menjadikan anak penurut dengan menempuh segala cara, termasuk menakutinya dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu ditakutkan. Misalnya ketika anak tidak mau makan, orang tua mengancam akan memasukkannya ke ruang gelap atau disuntik dokter. Tentu perlakuan ini akan sangat tidak membantu jika suatu saat anak memang terpaksa harus berada dalam kedua kondisi tersebut.

Ketika lampu mati di malam hari anak akan merasa sangat tercekam sehingga orang tua tentu tak bisa member pengertian dengan baik tentang keadaan tersebut disebabkan mereka selama ini yang telah menanamkan begitu mengerikannya sebuah kegelapan. Begitupula ketika anak dalam keadaan sakit dan mengharuskan mereka untuk dibawa ke dokter. Perlawanan dari anak untuk menolak dibawa ke dokter tentulah wajar, karena selama ini yang berada di otak mereka bahwa dokter adalah sosok yang menakutkan dan suntikan yang memang terkadang diperlukan itu dianggap tindakan yang menyakiti anak. Bukankah kalu begini keadaannya, orang tua sendiri yang akan merasa repot.

Ada banyak sikap yang perlu dilakukan untuk menghadapi perasaan takut pada anak. Tentu sebelumnya harus dicari tahu sebab-sebab dan sumbernya terlebih dahulu. Dengan begitu kita akan bisa dengan baik menerangkan segala sesuatu yang seharusnya tak perlu ditakutkan.
Berikut ini macam-macam rasa takut dan upaya mengatasinya:

Takut Berpisah (Separation Anxiety)
Kecemasan anak jika harus berpisah dengan orang terdekatnya adalah hal yang wajar. Kelekatan anak dengan sosok ibu yang semula terasa amat kental, biasanya akan berkurang di tahun-tahun berikutnya. Bahkan di usia 2 tahunan, kala sudah bereksplorasi, anak akan melepaskan diri dari keterikatan dengan ibunya. Justru yang menjadi masalah bila si ibu bersikap overprotektif. Perlakuan semacam itu justru akan membuat kelekatan ibu-anak terus bertahan dan akhirnya menimbulkan kelekatan patologis sampai si anak besar. Akibatnya, anak tak mau sekolah, gampang nangis, dan sulit dibujuk saat ditinggal ibunya. Bahkan si ibu beranjak ke dapur atau ke kamar mandi pun, diikuti si anak terus. Repot, kan?
Untuk mengatasinya perlu dengan menjelaskan kenapa dalam suatu keadaan mengharuskan ibu dan anak harus berpisah. Ketika anak sudah mulai sekolah, peran ibu bisa digantikan guru ketika di sekolah. Mereka bisa minta bantuan guru ketika berada di sekolah. Begitu pula ketika ia bersama kakek, nenek, om, tante dan sebagainya. Jadi tidak semua harus denagn ibu.

Takut Masuk Sekolah
Melepas anak usia batita masuk playgroup bukanlah perkara mudah. Sebab, ia harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Tetatpi adakalanya anak takut masuk sekolah disebabkan oleh pihak orang tua sendiri yang khawatir melepas anaknya “sekolah”. Khawatir anaknya terjatuh kala bermain atau diganggu temannya.
Upaya yang perlu dilakukan yaitu: Orang tua tetap perlu mengantar anak ke “sekolah” karena ini menyangkut soal pembiasaan. Kalaupun di hari-hari berikutnya ada sekolah-sekolah yang bersikap tegas hanya membolehkan orang tua menunggu di luar, sampaikan informasi ini pada anak. Guru pun harus bisa menarik perhatian anak agar tidak terfokus pada ketiadaan pendampingan orang tuanya dengan bermain. Di saat asyik bermain dengan teman-temannya niscaya ia akan lupa.

Takut Pada Orang Asing
Pada usia awal, anak mau digendong/dekat dengan siapa saja. Namun di usia 8-9 bulan biasanya mulai muncul sikap menjaga jarak pada orang yang belum begitu dikenalnya. Ini normal karena anak sudah mengerti/mengenali orang. Ia sadar mana orang yang familiar dengannya atau mereka yang masih asing. Di usia batita seharusnya rasa takut pada orang asing sudah mulai berangsur hilang karena, toh, ia sudah bereksplorasi. Semestinya anak sudah memperoleh cukup pengetahuan untuk menyadari bahwa tak semua orang asing/yang belum begitu dikenalnya merupakan ancaman baginya. Biasanya, justru karena orang tua kerap menakut-nakuti, sehingga anak bersikap seperti itu.

Takut Dokter
Ketakutan pada dolter bisa disebabkan karena anak punya pengalaman buruk terhadap sosok yang satu ini, pernah disuntik misalnya. Atau orang tua rajin menakut-nakuti dengan dokter.
Cara Mengatasi:Izinkan anak membawa benda atau mainan kesayangannya saat datang ke dokter sehingga ia merasa aman dan nyaman. Di rumah, orang tua bisa membantunya dengan menyediakan mainan berupa perangkat dokter-dokteran. Biarkan anak menjalani peran dokter dengan boneka sebagai pasiennya. Secara berkala ajak anak ke dokter gigi untuk menjaga kesehatan giginya. Tak ada salahnya juga mengajak dia saat orang tua atau kakak/adiknya berobat gigi. Dengan begitu anak memperoleh infomasi bagaimana dan ke mana ia harus pergi untuk menjaga kesehatan giginya. Lambat laun ketakutannya pada sosok dokter justru berganti menjadi kekaguman.

Takut Hantu
Gara-gara sering diancam dan ditakuti seperti itu, batita yang sebetulnya belum mengerti sama sekali tentang hantu, jadi tahu dan takut. Bisa juga karena ia menonton tayangan berbau mistis di televisi.
Cara Mengatasinya dengan menjauhkan anak dari tontonan tentang hantu. Orang tua pun seyogyanya jangan pernah menakut-nakuti anak hanya demi kepentingannya.

Takut Gelap
Pengalaman yang buruk tentang kegelapan bagi anak akan senantiasa membekas. Bukan tidak mungkin rasa takut tersebut akan menetap sampai usia dewasa. Semisal keluar keringat dingin atau malah jadi sesak napas setiap kali berada di ruang gelap atau menjerit-jerit kala listrik mendadak padam.
Cara Mengatasi:Saat tidur malam, jangan biarkan kamarnya dalam keadaan gelap gulita jika ia memang belum tebiasa. Paling tidak, biarkan lampu tidur yang redup tetap menyala. Sebelum tidur, bacakan kisah-kisah yang menenangkan bukan malah yang menakutkan. Atau biarkan benda kesayangannya, boneka misalnya tetap menemaninya.

Takut Air/ berenang
Anak usia balita biasanya suka bermain air. Kecuali kalau dia pernah mengalami hal tak mengenakkan semisal tersedak atau malah nyaris tenggelam saat berenang.
Upaya yang perlu dilakukan dengan membiasakan secara bertahap. Semisal, awalnya biarkan anak sekadar merendam kakinya atau menciprat-cipratkan air di kolam mainan. Atau dengan sering mengajaknya berenang bersama dengan saudara/teman-teman seusianya. Tentu saja sambil terus didampingi dan dibangun keyakinan dirinya bahwa berenang sungguh menyenangkan, hingga tak perlu takut. Kalaupun anak tetap takut, jangan pernah memaksa apalagi memarahi atau melecehkan rasa takutnya.

Takut Hewan
Tak sedikit anak yang takut pada kambing, sapi, jangkrik, kecoa atau serangga terbang lainnya. Bisa jadi karena jijik atau karena ada keanehan bentuk terhadap hewan tersebut.
Cara Mengatasnyai: orang tua bisa memberi pengenalan tentang alam binatang pada anak. Pahami ketakutan anak sekaligus membantunya merasa aman. Boleh saja katakan, “Ayah tahu kamu takut jangkrik.” Cukup segitu dan jangan paksa anak berada terus-menerus dalam pembicaraan mengenai rasa takutnya. Jangan pula memaksa anak bersikap sok berani menghadapi ketakutannya. “Belum saatnya mencobakan anak melihat atau malah menyentuhkan serangga yang ditakutinya. Ini hanya akan membuat anak semakin takut.” Bila dipaksakan terus, anak malah bisa fobia pada serangga. Biarkan anak tertarik dengan sendirinya dan biasanya ini terjadi setelah anak berusia 2 tahunan. Jika anak memang takut kala ada serangga yang terbang di dekatnya, bantulah untuk mengusirnya bersama.

Ada juga beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menghilangkan rasa takut pada anak.
1. Mengaitkan sesuatu hal yang ditakutkan dengan hal yang disenangi atau yang indah-indah. Hal ini merupakan salah satu upaya menghilangkan ketakutan pada anak. Sebagai contoh: diciptakan gelap pada malam hari supaya kita bisa tidur dan istirahat dengan tenang, dan bahwasannya bulan dan bintang akan terlihat indah di malam hari yang gelap.
2. Menceritakan kisah-kisah heroic, seperti kisah-kisah peperangan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dan keberanian para sahabat dalam memerangi musuh Allah.
3. Tidak memaksa anak untuk bersikap sok berani terhadap hal yang ditakutinya kalau ia belum siap, namun perlahan-lahan bantu ia untuk menhadapi rasa takutnya.
4. Menerangkan sesuatu yang aneh dan belum dimengerti dan tidak merasa keberatan terhadap pertanyaannya yang banyak serta memahamkannya sesuai dengan pemahamannya.

Nah sebenarnya kita sebagai orang tua punya peranan besar dalam membentuk karakter anak. Apakah kita akan menjadikan anak kita anak yang pemberani (dalam artian pisitif) atau dengan menjadikan anak kita penakut. Semua itu tergantung bagaimana cara kita mendidik, memperlakukan dan memahami kondisi psikologis mereka. Semoga kita diberikan kekuatan untuk mendidik mereka menjadi mujahid dan mujahidah tangguh. wallahul musta’an.

Sumber:
Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Prasekolah, Abu Amar Ahmad Sulaiman
http://www.akuanakmuslim.com
Gambar dari http//tobeme.files.wordpress.com/

5 thoughts on “Rasa Takut pada Balita

  1. wa’alaikumsalam…..boleh tahu, usianya kira-kira berapa ya? sebabnya bisa bermacam-macam. bisa jadi karena kecapekan bermain disiang hari, ato lapar, sakit, dll.

Comments are closed.