Komunikasi Verbal

“Aauu…aauu…..”, samar-samar aku dengar dari dapur Fatih mengucapkan kata itu berulang kali. Kucoba untuk memastikan kata apa yang barusan aku dengar. “Apa,dik?” Aku mendekat dan bertanya kepadanya. “Aauu….” ucapnya. Aku mengernyitkan dahi, mencoba menebak-nebak apa maksudnya. Tapi, masih belum mengerti juga apa maksudnya. Aku terus berfikir dan terus berusaha memahaminya….

“Tahu….tahu…”Lamat-lamat kudengar sebuah suara yang terdengar semakin menjauh. Oo..ternyata suara pedagang tahu keliling yang kebetulan lewat depan rumah. Fatih menirukan suara pedagang tahu…?? ih anak nie..Beberapa kata ia ucapkan, namun terkadang aku ga paham maksudnya. Setelah kutanya terkadang ia mau mengulanginya, tetapi sering juga ia tidak merespon..tergantung mood.

Hanya sedikit kata yang bisa aku pahami, misalkan ia bilang, “aba-aba..”(maksudnya laba-laba). Ceritanya, aku sering tunjukkan ia laba-laba dan sarangnya. Dan ia tahu tempatnya di kamar. Suatu ketika Ia bermain-main dengan ayahnya, trus ayah tanya, “Laba-labanya mana?” Ia menunjuk ke arah kamar , menarik-narik tangan ayahnya. Sampai dikamar, ia hanya tengak-tengok sana-sini soalnya tidak ditemui sarang laba-laba disana. ‘Oo…laba-labanya nggak ada, Dik”. Aku bilang kalo sudah dibersihkan tadi pagi, karena dah terlalu banyak sarang laba-labanya. Ga enak dipandang mata.

Belum banyak kosa kata yang jelas ia ucapkan, lebih banyak yang ga jelasnya. Ter kadang ngoceh sendiri semaunya ketika ia megang buku, mulutnya berceloteh seperti ia sedang membaca. Tapi ia memahami perintah-perintah kalo diminta melakukan sesuatu, misalkan: membuka/menutup pintu, duduk, bobok, membaca, melompat, makan, menirukan gerakan binatang, menirukan suara binatang (kucing, cicak, tokek), mematikan kipas angin, berhitung, menirukan ekspresi di majalah, naik mobil-mobilan, menyapu, menghalau kucing/kecoa, dan lain-lain.

Kalo ditanya suruh menunjukkan bagian-bagian kepala, mukanya lucu. “Mana kepalanya?” …(ia pegang kepala). “Matanya yang sipit?”…(Ia mengedip-ngedipkan mata). “Kalo hidung?”…(Ekspresinya kaya orang pilek yang lagi ngeluarin ingusnya, sambil nyengir-nyengir). “Bibir?…(Ia menunjuk bibir dan memainkan dengan tangannya). “Giginya?”…(Kemudian ia meringis menunjukkan giginya yang baru enam). Kalo ditanya telinga, ia lum bisa nunjukkan dengan pas…

Respon ia berupa kata-kata sepertinya belum banyak. Padahal tak kurang-kurang ibunya berceloteh kalo sam fatih. Bahkan ayahnya yang tergolong pendiam tue terlihat rame kalo lagi bersama fatih. Terkadang fatih merasa gemas dan jengkel juga, jika meminta sesuatu tetapi ayah dan ibunya gak paham-paham maksudnya. Biasanya ia langsung ngambek dan gulung-gulung dilantai….(makanya cepat bisa ngomong ta, Fatih!)

Perkembangan anak-anak memang berbeda-beda. Ada yang umur satu tahun dah cerewetnya minta ampun, ada juga yang agak lamban. Tapi selama masih dalam batasan usia yang wajar, hal itu tak jadi masalah. Yang jelas orang tua tak boleh putus asa dan harus tetap memberikan stimulasi untuk melatih komunikasi verbalnya. Ia memang cenderung berkembang pada aktivitas fisiknya ketimbang bahasa. Manjat-manjat (sepeda motor, meja, kursi, pintu pagar, rak buku,dll), jungkir balik di kasur, naik mobil pancal, ngejar-ngejar kucing, dan lain sebagainya.Yang pasti upaya-upaya untuk melatih komunikasi verbalnya harus selalu dilakukan. Dengan mengajak ngobrol, membacakan cerita, mengajukan pertanyaan, dll. Walaupun ia belum bisa mengucapkan kata-kata yang bermakna jelas, tetapi ia sudah memahami bahasa kita dengan mereponnya melalui tindakan fisiknya.

Biasanya aku gunakan waktu yang tepat bagi ia, misalnya sebelum tidur dengan membacakan kisah-kisah teladan, dan juga hafalan surat-surat pendek/ dzikir-dzikir sebelum tidur. Nah saat-saat seperti ini ia bisa lebih konsen mendengarkan. Terkadang ia ikut-ikutan ngangguk-ngangguk ketika kubacakan hafalan surat-surat. Begitu dah capek, langsung tertidur.