Multiple Intelligences, Memahami Keunikan Setiap Anak

Anak adalah pribadi yang unik dimana memiliki irama dan tempo perkembangan yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Oleh karena itu bentuk perlakuan dan pelayanan terhadap mereka tentulah berbeda disesuaikan dengan karakter nya. Sebuah pandangan kritis mengenai kecerdasan anak dimana setiap anak mempunyai karkter yang berbeda satu dengan yang lainnya, merupakan sebuah terobosan baru dalam dunia pendidikan.

Pandangan saat ini yang masih berkembang di masyarakat bahwa anak dikatakan cerdas karena ia menonjol di bidang eksak dan kemampuan berbahasa. Kedua hal tersebut yang biasa dijadikan tolok ukur kecerdasan seorang anak di sekolah-sekolah, sehingga dengan mudah mengklaim bodoh anak yang lemah dalam bidang tersebut.

Namun saat ini, konsep kecerdasan anak yang dikemukakan dengan batasan tersebut terlalu sempit. Gagasan Howard Garner mengenai Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) yang dipublikasikan secara luas dalam buku “Frame of mind The Theory of Multiple Intelligences” , memperbarui cara pandang manusia terhadap konsep kecerdasan.

Gardner menggagas teori tentang keragaman jenis kecerdasan dan membedakannya menjadi 9 jenis kecerdasan. Jenis-jenis kecerdasan itu adalah sebagai berikut:

1. Kecerdasan linguistik
Yaitu kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memanipulasi tata bahasa atau struktur bahasa, fonologi (bunyi bahasa), semantik (makna bahasa), dimensi pragmatik (penggunaan praktik bahasa). Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh pendongeng orator, politisi, pembawa acara, pembicara publik, penceramah, sastrawan, wartawan, editor, penulis skenario, dan sebagainya.

2. Kecerdasan matematis-logis
Yaitu kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap pola dan hubungan logis, pernyataan dan dali (jika-maka, sebab-akibat), fungsi logis dan abstraksi-abstraksi lain. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh ahli matematika, insinyur, pekerja keuangan, bankir, ahli statistik, ilmuwan, programer, perencana dan sebagainya.

3. Kecerdasan spasial
Yaitu kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat dan mentransformasikan persepsi dunia visual-spasial tersebut. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap warna, bentuk, ruang, garis dan hubungan antar unsur tersebut. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh arsitek, dekorator, seniman, inventor, desainer, pelukis, fotografer, sutradara film dan sebagainya.

4. Kecerdasan kinestetis-jasmani.
Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi keseimbangan, ketrampilan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan, maupun kemampuan menerima rangsangan dan hal-hal yang berkaitan dengan sentuhan. Kecerdasan biasanya dimiliki oleh pengrajin, mekanik, dokter bedah, atlet, aktor, penari dan sebagainya.

5. Kecerdasan musikal
Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada irama, pola titi nada atau melodi, dan warna nada, atau warna suara suatu lagu. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh pemain musik, penyanyi, komposer, pembuat efek dan sebagainya.

6. Kecerdasan interpersonal
Yaitu kemampuan membedakan berbagai macam tanda interpersonal; dan kemampuan menanggapi secara efektif tanda dan tindakan pragmatis tertentu. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap ekspresi wajah, suara, gerak isyarat. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh politisi, marketer, pekerja sosial, psikolog, pewawancara, dan sebagainya.

7. Kecerdsan intrapersonal.
Yaitu kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memahami diri yang akurat (kekuatan dan keterbatasan diri); kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh penulis, spiritualis, psikolog, ilmuwan dan sebagainya.

8. Kecerdasan naturalis
Yaitu keahlian mengenali dan mengkategorikan benda-benda fisik dan fenomena alam. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh ahli biologi, pendaki gunung, aktivis lingkungan, pecinta binatang dan sebagainya.

9. Kecerdasan eksistensial
Yaitu keahlian pada berbagai masalah pokok kehidupan dan aspek eksistensial manusia serta pengalaman mendalam terhadap kehidupan. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh filosof, spiritualis, seniman, ilmuwan dan sebagainya.

Menurut teori multiple intelligences, setiap manusia memiliki satu atau lebih jenis kecerdasan yang menonjol, dan kecerdasan-kecerdasan lain yang biasa berkurang. Dengan munculnya teori ini dapat membuka cakrawala baru dalam dunia pendidikan anak dan penyelenggaraan pendidikan. Pelabelan bodoh pada anak yang tidak menonjol dalam keahlian tertentu , merupakan upaya pembodohan itu sendiri. Oleh karena itu, dengan adanya teori multiple intelligences itu, anak-anak mendapat kesempatan pengembangan diri yang luar biasa. Teori ini sejalan dengan kecenderungan di masyarakat dan dunia pendidikan yang semakin menghargai keunikan individual seorang manusia.

Walaupun sistem pendidikan di berbagai dunia menerima eksistensi teori Multiple intelligence, tetapi dalam tataran praktisnya di tingkat sekolah sangat sulit diadaptasikan, karena teori ini mempunyai kompleksitas tinggi untuk diterapkan dalam sebuah sistem pendidikan seperti sekolah umum bersifat massal. Namun merupakan angin segar bagi penyelenggara pendidikan rumah (homeschooling).

Sumber: Homeschooling. A leap for better learning. Sumardiono. Elex Media Komputindo