Kami Beri Nama Ia Fatih Fauda

Kehadiran buah hati merupakan suatu hal yang didambakan oleh setiap pasangan suami istri. Demikian halnya yang kami rasakan. Selang sebulan setelah pernikahan kami pada tanggal 28 Februari 2008, aku tidak mendapatkan haid. Mungkin karena sudah terlalu banyak referensi tentang kehamilan dan juga tanda-tandanya, kami sudah mengira sebelumnya. Sengaja memang untuk tidak segera melakukan test atau cek ke dokter. Tapi mau tidak mau juga harus melakukan tes. Hasilnya positif, bahwa aku hamil.

Sepertinya memang ada yang kurang ketika menjalani kehamilan tanpa ditemani suami. Job suami di kota Surabaya yang mengharuskan ia hanya bisa pulang tiap akhir pekan. Tugas mengajarku di kota kelahiran juga tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Paling tidak harus diselesaikan sampai tahun ajaran berakhir.

Alhamdulillah kondisiku di trimester pertama baik-baik aja. Tak seperti yang kubayangkan sebelumnya, bahwa awal-awal kehamilan adalah masa-masa sulit yang terkadang mengharuskan si ibu hamil harus menjalani bedrest. Dugaanku salah besar, kondisiku benar-benar fit layaknya tidak sedang hamil. Kalaupun aku juga mengalami yang namanya morning sicknes, hal itu tidak banyak berpengaruh terhadap aktivitasku. Aku masih mengajar di sebuah SMA Negeri yang jauhnya 45 menit perjalanan dengan sepeda motor. Jalan yang dilaluinya pun cukup sulit karena naik turun gunung. Tapi dengan suasana hati yang senang dengan aktivitas yang dijalani, masa-masa itu kulalui dengan mudah. Dengan berfikir positif menjadikan semua urusan terasa mudah.

Aku dan suami mempunyai hobi yang sama, suka berpetualang. Mendaki gunung dan jalan-jalan ke alam terbuka yang banyak terdapat di tanah kelahiranku. Dengan melihat pemandangan alam, pikiran jadi fresh dan lebih rileks. Sebenarnya ada keasyikan tersendiri ketika kami berada di alam terbuka. Selain bisa lebih mempererat hubungan suami istri kami bisa ber-tadzabur alam mengagumi kebesaran Allah. Aktivitas naik gunung kami lakukan sampai usia kehamilan 4 bulan. Tentu bukan gunung tinggi yang harus ditempuh selama berhari-hari, namun bukit-bukit kecil yang membentuk rangkaian pegunungan. Walaupun begitu aku tetap memperhatikan kondisi dan menjaga agar tidak terlalu lelah. Karena keletihan akan berpengaruh buruk terhadap janin yang dikandung.

The inspiring woman
Melahirkan bagi sebagian wanita mungkin akan terasa mengerikan. Namun insya Allah akan terbalas dengan kehadiran si buah hati. Kurasakan rasa sakit yang sangat ketika terjadi kontraksi, sampai-sampai aku berfikir tak akan kuat jika harus menunggu lebih lama. Aku selalu berdzikir di sela rasa sakit yang kurasa. Allahumma laa sahla illa ma ja’altahu sahla wa anta taj’alul hazna idza si’ta sahla (Ya Allah, tidak ada kemudahan melainkan engkau menjadikannya mudah dan engkau jadikan kesulitan menjadi mudah dengan ijinmu).

Seorang wanita yang namanya diabadikan sebagai nama surat dalam Al Qur’an menjadi inspirasi bagiku. Ia adalah Maryam. Ketabahan, kesabaran dan keyakinannya yang kuat kepada Allah yang mengantarkan ia ke kedudukan yang mulia di sisi Allah. Aku suka membaca surah maryam dan menyelami maknanya ketika hamil. Bisa dibayangkan betapa ia harus menanggung cemoohan dari kaumnya ketika diketahui hamil tanpa seorang suami, sampai pada detik-detik kelahiran putranyapun tak ada yang membantu proses persalinannya. Dalam keadaan seperti itu, seorang wanita biasa mungkin tak akan mampu menjalaninya. Namun ia adalah wanita pilihan Allah yang akan menjadi Ibu bagi seorang rasul.

Kisah Maryam itu yang membuatku malu untuk mengeluh walau aku merasakan sakit yang hebat. Mengeluhpun tak akan mengurangi rasa sakit. Maka kucoba selalu untuk berdoa dan berdzikir.

Detik-detik kelahiran
Perkiraan Dokter HPLnya tanggal 22 Desember 2008. Kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk rencana cuti suami agar bisa menemani proses kelahiran. Tapi saat itu memang ia lagi sibuknya, so ditunda pulangnya sampai tanggal 23. Dua hari dari tanggal perkiraan berlalu, tapi masih belum juga ada tanda kelahiran, kayaknya masih anteng-anteng aja.

Kontraksi yang frekuensinya jarang mulai terjadi pagi hari tanggal 24 Desember. Walaupun ini pengalaman pertama bagi kami, tapi sedikit banyak kami juga belajar tentang kehamilan dan tanda-tanda persalinan. So, dengan adanya tanda awal tersebut kami tak langsung membawanya ke Rumah Sakit, karena kemungkinan masih beberapa jam lagi atau bahkan sehari. Walaupun begitu, suami tetap memberikan support dan bersikap tenang.

Jam menunjukkan pukul 21.00. Saya rasakan kontraksi sudah semakin sering, mungkin memang sudah saatnya untuk dibawa ke Rumah Sakit bersalin. Tapi, dalam sekejap sekitar menjadi gelap. Ternyata lampu mati karena ada pemadaman listrik. Ga terbayang melahirkan di kegelapan malam. Setibanya di Rumah Sakit ternyata sudah bukaan 3. Tanggal 25 Desember 2008 tepat pukul 01.15 lahirlah seorang bayi laki-laki dengan berat 3 kg dengan proses normal dan tak banyak mengalami kesulitan. Lega rasanya. Ini lebih cepat dari perkiraan semula.

Rasa bahagia meliputi hati kami sekeluarga. Seorang anak laki-laki yang kemudian kami beri nama Fatih Fauda telah memberi warna di lembar kehidupan kami. Menjadikan keluarga ini semakin lengkap dengan adanya canda tawa dan tangisan si kecil. Dan berharap ia akan menjadi pembuka kebaikan seperti halnya makna yang tersirat dalam namanya.

Namun tugas berat dalam mendidiknya menanti di depan mata. Zaman kita sekarang ini berbeda dengan zaman di kala orang tua mendidik kita dulu. Tantangan yang akan kita hadapi pastilah lebih dahsyat dibanding pada saat itu. Dan tentu usaha kita harus lebih kuat dari mereka, bekal ilmu kita harus lebih banyak dari mereka. Jangan sampai kita terlena dan membiarkan anak kita terseret oleh arus yang akan membawanya ke jurang kebinasaan.