Siapa Lagi Kalau Bukan Kita?

Anak laki-laki itu dengan seriusnya menonton tayangan film kartun yang sedang berlaga. Tak bergeming sedikitpun. Namun sesekali terlihat polah gerak tangan dan kakinya menirukan adegan perang. Matanya tak beralih dari gambar-gambar bergerak di TV.

Kala itu suara adzan berkumandang. Dari ruangan lain terdengar suara ibunya mengingatkan bahwa ia harus segera pergi ke masjid untuk shalat jama’ah. Namun dengan serta merta si anak mengecilkan volume TV dan masih tetap tak beranjak darinya. “Adik, kalau tak bersegera nanti ketinggalan jama’ahnya lho”, suara ibunya kembali mengingatkan.
Si anak mengiyakan, tetapi masih saja asyik dengan film kartunnya.

Begitu melihat anaknya tak beranjak juga, Si ibu kemudian menghampirinya dan seketika mematikan televisi. Namun tak berapa lama ibunya pergi, Si anak kembali menyalakan TV sembari berkata. “Aku shalat di rumah aja. Kan batas waktunya masih lama”, Si anak berargumen tak mau kalah.

Sekelumit kisah di atas mungkin pernah terjadi di sekitar kita bahkan di keluarga kita. Betapa anak tak bisa lepas dari TV. Mereka begitu asyik dengan tayangan yang notabene tak kenal waktu. Anak-anak seolah-olah terhipnotis dengan acara-acara yang mereka lihat. Mereka cenderung meniru apa yang dilihatnya, tanpa tahu baik atau buruk. Mereka memang belum punya filter yang bisa membedakan mana yang baik maupun yang buruk.

Tidak sedikit berita yang kita dengar tentang kekerasan yang dilakukan anak pada teman-teman sebayanya. Pengakuan dari anak pelaku kekerasan adalah mereka meniru adegan di TV. Karena tayangan yang mereka tonton kebanyakan tak syarat dengan hal-hal yang mendidik dan lebih cenderung pada tindak kekerasan, umpatan dan permusuhan. Tak banyak manfaat yang bisa di ambil siaran TV, bahkan lebih banyak mudharat yang akan menimbulkan mafsadat. Semakin banyaknya saluran TV yang ada menjadikan anak semakin terpenjara di rumahnya sendiri. Mereka malas untuk bersosialisasi dan acuh tak acuh terhadap keadaan sekitarnya.

Selain itu, anak yang sering melihat televisi kurang imajinatif. Otak mereka lamban berkembang. Karena otak tidak bereksplorasi secara maksimal dengan karakter, seting dan lain-lain disebabkan semua itu telah tervisualisasi oleh gambar-gambar bergerak di TV. Tak ada kesempatan anak untuk berimajinasi. Gambar bergerak dan berganti tiap detiknya membuat otak lelah sehingga kemampuannya untuk berkonsentrasi menurun.

Menyadari begitu tak ramahnya televisi untuk anak dan banyak efek negatif yang ditimbulkannya, lalu apakah kita bisa merasa tenang membiarkan anak kita duduk manis di depan TV, padahal saat itulah otak mereka merekam segala sesuatu. Dan apa yang mereka peroleh dari tayangan yang bersifat anarkis itu yang akan mereka cerminkan di keseharian mereka.

Siapakah lagi yang bisa menyadari arti penting masa depan anak-anak kita, kalau bukan kita sebagai orang tua. Yang mengawal masa keemasan mereka dengan hal-hal yang positif. Yang terus berjibaku melawan arus kerusakan moral yang siap merusak mental anak-anak kita. Siapa lagi kalau bukan kita yang berani untuk bilang “Say No to TV”