Emansipasi, Racun Berasa Manis

Kalau kita berjalan di pasar, berkunjung ke kantor, ke tempat-tempat umum lainnya dengan mudah menjumpai kaum wanita berinteraksi dengan laki-laki bukan mahram tanpa adanya hijab (pembatas), melakukan jenis pekerjaan yang semestinya cocok untuk lelaki atau melakukan hal-hal yang bisa merusak fitrah kewanitaannya.

Wanita bersaing dengan laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan yang sama. Dan jika kita sempat bertanya, “Kenapa ibu mau melakukan pekerjaan laki-laki? Jawaban yang mungkin terlontar, “Ya, ini kan zaman Emansipasi Wanita”. Kalau laki-laki jadi presiden, wanita juga bisa jadi presiden. Bahkan jika lelaki bisa panjat pinang, wanitapun bisa. Benarkah demikian keadaannya?

Kampanye tentang emansipasi wanita sangat gencar, kemudian munculnya LSM-LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang menangani masalah wanita dan mengusung protes perlakuan diskriminatif terhadap wanita. Disusul kemudian munculnya istilah ‘kesetaraan jender’. Belum jelas apa makna ‘jender’ itu sendiri, namun secara umum istilah ‘jender’ digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya. Yang artinya jender tidak membedakan laki-laki dan wanita dari jenis kelaminnya. Sedangkan istilah ‘sex’ digunakan untuk perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi.

Dengan munculnya istilah jender, kita ‘umat Islam’ dipaksa untuk menghilangkan jati diri laki-laki dan perempuan yang memang jelas-jelas berbeda, baik dari segi anatomi tubuh yang menjadikan perbedaan fungsi dan peranan antar keduanya maupun tugas dan kewajiban sebagai pelengkap satu sama lain.

Slogan Kaum Kuffar
Perhatian dunia international tentang nasib kaum wanita dimulai pada awal tahun 1975 dengan ditetapkannya sebagai Tahun Perempuan Internasional oleh Majelis Umum PBB. Kemudian diadakannya konferensi-konferensi tingkat dunia tentang perempuan yang bertujuan untuk menghapus segala bentuk perlakuan diskriminatif yang merendahkan kaum wanita serta berupaya mengangkat derajat kaum wanita dalam bentuk persamaan baik itu di bidang ekonomi, politik, sosial-budaya, pendidikan dan lain-lain. Yang pasti anggapan sebagian orang, konferensi itu akan menjanjikan kebebasan, kemerdekaan dan masa depan kaum perempuan. Namun perlu kita pahami bahwa persamaan antara laki-laki dan wanita tanpa dasar merupakan indikasi penghilangan aturan baku Islam mengenai hak dan kewajiban mereka.

Kebanyakan mereka yang lemah ilmu dien menjadi corong pola pikir  kafir tersebut dan termakan oleh slogan yang menganggap agama adalah salah satu faktor penyebab keterbelakangan wanita. Dan inilah yang paling berbahaya yaitu munculnya anggapan bahwa agama merupakan pemicu diskriminasi terhadap wanita. Jika racun tersebut telah menjadi candu bagi kaum muslimin, maka hancurlah tatanan kehidupan ini.

Tujuan slogan tersebut terkesan begitu baik, membebaskan keterbelakangan wanita, menyejajarkan mereka dengan kaum pria. Padahal slogan tersebut adalah makar penghancuran kaum muslimin dan keberadaan agama Islam di muka bumi. Kaum kafir memahami bahwa wanita memiliki peran penting dalam pembentukan masyarakat yang maju. Maka kunci yang mereka pakai adalah menghancurkan para wanita dengan menganjurkan mereka keluar dari rumah, bersolek melepas jilbab dan berlenggak-lenggok di jalanan, serta enggan mengurus suami dan anak-anaknya.

Wanita Tetap Sebagai Korban
Emansipasi yang dilandasi pola pikir rusak mengakibatkan dampak yang mengerikan. Kerusakan paling akhir adalah hilangnya norma baku ilahiyah yang mengatur masyarakat. Kerusuhan dan kekacauan muncul dimana-mana yang seolah-olah menjadi santapan harian setiap individu. Pelecehan seksual mulai dari taraf kecil-kecilan sampai yang berat (pemerkosaan) sudah sangat banyak terekspos. Hilangnya kesejukan bahkan hancurnya mahligai rumah tangga bukan hal aneh lagi. Selanjutnya muncullah anak-anak yang menciptakan kerusuhan dan bertindak amoral.

Segala akibat yang timbul tersebut akan lebih ditimpakan kepada wanita. Wanita lebih dituding sebagai biang segala kerusuhan tersebut. Wanita lagi-lagi menjadi objek yang lebih tepatnya sebagai korban para pengusung emansipasi tersebut. Awal gaung emansipasi adalah para wanita disuruh lebih aktif yang keluar dari fitrahnya. Saat para wanita mengikutinya, kerusakan segera bermunculn bak jamur di musim penghujan, dan saat itulah cercaan bagi wanita pun segera mengalir.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada fitnahnya kaum wanita.” (Mutaffaqun alaihi)

Terlebih setanpun manjadikan para wanita sebagai bala tentaranya dalam merusak kehidupan manusia. Dengan posisi wanita yang demikian pentingnya maka hendaknya para wanita tetap istiqomah menetapi fitrahnya sebagai muslimah. Tentu bagi para lelaki pun jangan latah mengikuti setan dalam menghancurkan para wanita terkhusus muslimah.

Kesetaraan Dalam Al Qur’an
Sebenarnya kesetaraan yang mereka dengungkan adalah kebohongan. Mereka menutup mata peran Allah Subhana wa ta’ala dalam mengatur kehidupan ini. Padahal Allah dalam Al Qur’an telah mengatur hubungan laki-laki dan perempuan antarahak dan kewajiban dengan tatanan yang rapi, jelas dan adil. Islam sebagai satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah menempatkan wanita  dalam posisi yang tinggi sebagai makhluk mulia dan harus dihormati. Sebelum Islam datang, wanita tak ubahnya makhluk yang hina, sehingga anak perempuan adalah aib bagi keluarga dan tak segan-segan menguburnya hidup-hidup. Dan itulah kondisi sebelum Al Qur’an turun di Jazirah Arab.

Salah satu perhatian Islam yang besar terhadap wanita yaitu dengan turunnya beberapa surat Al Qur’an yang berbicara secara rinci tentang kaum wanita, antara lain surat Mumtahanah dan Al Ahzab. Surat An Nisa’ lebih detil memperhatikan kaum lemah yang diwakili oleh anak-anak yatim, kaum yang lemah akalnya dan kaum wanita. Di ayat pertama surat An Nisa’, Allah menyamakan kedudukan lai-laki perempuan sebagai hamba dan makhluk Allah yang akan mendapatkan pahala yang sama jika beramal shalih. Keduanya tercipta dari jiwa yang satu (nafsun wahidah) yang mengisyaratkan tidak ada perbedaan diantara keduanya. Dan mereka dalam pengawasan Allah serta mempunyai kewajiban untuk bertakwa kepada-Nya (Ittaqu Robbakum), serta setara dalam tanggung jawab beramar ma’ruf nahi munkar.

Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam Al Qur’an bukan berarti harus sama dalam segala hal. Menyamakan antara laki-laki dan perempuan dari berbagai segi bukanlah suatu keadilan, tapi sebuah kezhaliman, karena memaksa wanita untuk mengerjakan hal-hal yang dikerjakan laki-laki, padahal wanita memiliki struktur tubuh yang berbeda. Sesuai dengan fitrahnya mengalami haid, melahirkan, mneyusui sedangkan laki-laki tidak mengalami hal itu. Begitu juga sebaliknya, memaksa laki-laki untuk bisa berbuat apa yang bisa diperbuat wanita, menyamakan keduanya adalah menyalahi fitrah manusia!

Maka kurang benar kalau ada kelompok-kelompok tertentu yang berupaya menyamakan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam segala hal. Allah telah menentukan batas yang jelas dan tegas dalam hal kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam Islam.

Laki-laki dan perempn adalah partner, keduanya sebagai pelengkap dan penyeimbang. Oleh karena itu Allah menciptakan dalam komposisi yang berbeda, baik itu dalam segi anatomi tubuh maupun tingkatan emosional.

Saling Memahami Peran
Sesungguhnya tugas utama bagi kaum wanita adalah mendidik anak-anak mereka, menjadikannya sebagai generasi yang tangguh, dan itu bukan sebuah kekurangan bagi wanita. Justru Islam memuliakan wanita dengan tidak membebani mereka dengan pekerjaan yang menyusahkan mereka. Walaupun kenyataan memang ada wanita yang bekerja namun jangan sampai melalaikan tugas utama mereka sebagai pendidik dan menghindari ikhtilath (campur baur laki-laki perempuan), seta diperbolehkan oleh agama Islam.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena itu Allah telah melebihkan sebagian dari mereka (laki-laki) atas sebagian dari yang lain (wanita), dn karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An Nisa’:34)

Ayat di atas secara jelas dan tegas menunjukkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Dan Allah telah menciptakan laki-laki dalam bentuk postur tubuh dan sifat-sifat yang bisa dijadikan bekal untuk menjadi pemimpin. Karena kepemimpinan memerlukan pendayagunaan akal secara maksimal dan membutuhkan stamina tubuh yang kuat, khususnya dalam menghadapi berbagai rintangan dan kendala, serta saat memecahkan berbagai problematika yang cukup rumit.

So, apakah kita masih akan tetap berpolemik tentang emansipasi? Menganggap segala persamaan itu adalah suatu bentuk keadilan. Yakinlah emansipasi merupakan racun yang snagat mematikan, walau banyak orang menganggapnya gula. Mungkin emansipasi adalah gula yang manis bagi mereka yang memperturutkan hawa nafsunya dan membuang ke belakang aturan ilahiyah. Wallahu a’lam