Kisah Nabi Ibrahim Alaihis-shalaatu was-salam

Ini adalah kisah Nabi Ibrahim Alaihis-shalaatu was-salam yang Allah pilih sebagai teladan dalam bertauhid. Teladan dalam memberikan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah. Dan penunjuk jalan menuju ke Pintu Surga…
Mari kita simak kisahnya!

Dahulu ada seorang pemuda bernama Ibrahim. Ia hidup pada zaman dimana orang-orang menyembah patung-patung atau kepada bintang-bintang yang ada di langit. Mereka tidak menyembah Allah.

Tetapi Ibrahim tidak sama seperti kaumnya. Ia adalah pemuda yang jujur dan baik hati. Ia beriman kepada Allah dan beribadah hanya kepada-Nya. Allah lah Tuhan yang ia sembah. Ibrahim bersyukur atas nikmat dan rahmat yang dilimpahkan kepadanya.

Allah juga mencintai Ibrahim. Oleh karena itu Allah membimbingnya dan memberikan pengetahuan Islam semenjak ia masih muda. Allah hendak memilihnya sebagai nabi.

Ibrahim adalah pemuda yang cerdas. Allah memberikan pengetahuan tentang Islam. Ibrahim muda mulai bertanya-tanya tentang perilaku buruk yang dilakukan kaummnya. Mereka berpaling dari beribadah kepada Allah.

Suatu ketika Ibrahim ingin tahu, apakah kaumnya akan kembali kepada Allah setelah tahu bahwa Allahlah yang telah menciptakan mereka. Allah yang memberi mereka makan dan juga perlindungan.

Ibrahim mulai membimbing mereka. Ia berkata pada kaumnya,

“Sebenarnya Tuhan kamu adalah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya (Tuhanmu adalah Allah).”

Tetapi kaumnya tidak mendengarkannya Tiap hari mereka masih menyembah patung-patung. Mereka berdoa dan meminta sesuatu padanya. Tetapi patung-patung tersebut tidak bisa membantu mereka ataupun memberi kebaikan. Mereka bahkan tak bisa mendengar doa-doa yang diucapkan orang-orang yang bodoh itu

Ibrahim mempunyai ide untuk membuat kaumnya sadar. Ibrahim ingin membuktikan bahwa beribadah dan berdoa kepada selain Allah adalah perbuatan yang salah.

Pada suatu hari, Ibrahim mendatangi tempat di mana berhala-berhala itu disembah. Ketika itu orang-orang sedang tidak berada di tempat itu. Ibrahim masuk dan memandangi berhala-berhala tersebut. Tentu saja patung-patung itu tidak akan bisa melihatnya. Mereka berhala yang tak bisa bicara, melihat ataupun mendengar. Mereka hanya patung-patung yang tak berguna lagi tuli. Seandainya ia mengambil kemudian membantingnya tentulah hanya akan pecah menjadi bagian-bagin yang kecil. Jadii bagaimana bisa orang-orang mengira bahwa berhala-berhala ini bisa membantu mereka. Bahkan untuk menyelamatkan dirinya sendiri saja ia tidak mampu.

Ibrahim mengetahui kebenaran ini karena Allah telah membimbingnya. Ibrahim kemudian mengambil kapak dan memenggal kepala berhala-berhala tersebut. Ia menyisakan berhala yang paling besar.

Orang-orang kemudian kembali dan mendapati berhala-berhala mereka telah hancur. Mereka terkejut. Apa yang telah terjadi? Siapa yang telah melakukan ini?

Salah seorang dari mereka berkata bahwa ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini. Namanya Ibrahim. Kemudian orang-orang itu membawa Ibrahim dan bertanya kepadanya, “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Ibrahim menjawab,”Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyalah pada berhala itu, jika mereka dapat bicara!”.

Orang-orang itu sadar bahwa berhala-berhala itu tidak bisa bicara, mendengar ataupun bergerak. Mereka merasa malu dan sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah. Namun mereka tidak mau mengakuinya. Mereka tetap membangkang.

Mereka mengingkari bahwa Allah adalah Tuhan mereka sempurna dan hanya kepadaNyalah seharusnya mereka menyembah. Sebenarnya mereka melihat rahmat dan karunia Allah. Mereka tahu akan hal itu, tetapi hati mereka tidak mau menerimanya. Oleh karena itu, hati mereka menjadi gelap dan buta.

Orang-orang itu marah dan berencana untuk membunuh Ibrahim. Mereka mengumpulkan kayu-kayu bakar. Mereka membuat tungku yang besar dan menyalakan api. Mereka akan membakar Ibrahim. Tetapi Allah benar-benar menyelamatkan Ibrahim dari api. Allah menjadikan dingin api itu dan menjadikan keselamatan bagi Ibrahim. Allah selalu melindungi setiap hambanya yang benar.

Ibrahim Dan Ayahnya

Ayah Ibrahim yang bernama Aazar juga sama seperti kaumnya. Hatinya telah gelap dan buta. Ibrahim menyaksikan ayahnya juga menyembah patung dan berhala. Hal ini yang menjadikan ia semakin bersedih. Ia berharap bisa membimbing ayahnya kembali kepada Allah.

Ibrahim berkata pada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun?”

Ia ingin ayahnya agar bisa memeluk Islam. Kemudian Ia menasehatinya dan berkata lagi,

“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”

Azzar tidak senang mendengarny. Namun begitu, Ibrahim masih berusaha memperingatkannya lagi:

“Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab darii Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu akan menjadi kawan Syaitan.”

“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kau tidak berhenti, maka n iscaya kamu akan kurajam. Tinggalkanlah aku sebelum aku menghukummu.” Jawab Ayah Ibrahim mengancam

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” Kata Ibrahim kemudian

Ibrahim berusaha membimbing ayahnya dan bersabar atas kedzaliman ayahnya. Tetapi sekarang sudah jelas bahwa ayahnya tidak ingin menaati perintah Allah. Dengan hati yang terluka dan merasa sedih, Ibrahim kemudian meninggalkan ayahnya. Ia tahu , dia tidak akan bisa bersama dengan orang yang membenci Allah. Dan bahkan ayahnya tidak takut pada siksaan Allah. Kemudian Ibrahim membawa apa yang ia punyai dan meninggalkan keluarga dan rumahya.

Ia meninggalkan musuh-musuh Allah. Ia berlepas diri dari orang-orang yang berbuat dzalim dengan melakukan kesyirikan. Mereka menolak petunjuk Allah, mengingkari rahmat Allah dan juga mengabaikan hakNya sebagai satu-satunya dzat yang harus disembah.

Ibrahim memulai hidup baru di tempat yang baru. Nabi Allah ini selalu dilindungii dan ditolong oleh Allah. Ia memulai babak baru kehidupannya. Allah menjadikan keimanan dan hatinya lebih tegar. Hati Ibrahim bersih dan suci karena selalu menaati perintah Allah.

Ketika ia memerlukan sesuatu, ia minta pada Allah. Ia berdoa kepada Allah suatu hari, “ Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku anak yang shaleh.”

Allah mengabulkan doanya dan mengkarunianya Ismail dan Ishaq yang juga menjadi nabi.

Nabi Ibrahim adalah bapak para nabi. Allah menjadikannya kekasih. Ia senantiasa memohon rahmat dan keselamatan. Allah menjadikan ia dan keluarganya selalu dalam keimanan. Dalam doanya yang suci dan indah Ibrahim meminta:

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang-orang yang tunduk kepada Engkau.
Dan jadikan diantara cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.
Dan tunjuki kami cara-cara dan tempat ibadah haji kami.
Dan terimalah taubat kami.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Ini adalah doa Nabi Ibrahim dan sebuah pesan untuk umatnya. Ibrahim mengajak manusia ke dalam Islam. Dan barangsiapa yang hidup dan mati dalam keadaan tetap beribadah kepada Allah maka akan memperoleh janji Allah berupa rahmat dan kebahagiaan. Di kehidupan mendatang ia akan mendapatkan kedudukan yang mulia. Demikianlah Nabi Ibrahim alaihis-shalaatu was-salam yang dimuliakan Allah dan didudukkan di tempat yang mulia , Yaitu Taman Surga…

Sumber:
– Al Qur’an Al Kariim
– Diterjemahkan dari http://www.islam4kids.com