Animal Observation

Siang itu cuaca yang tak bersahabat membuatku malas untuk keluar rumah, walaupun sekedar di halaman rumah saja. Tapi, yang namaya anak-anak, sumpek kali berada di ruangan…mending keluar saja. Fatih bermain di halaman rumah. Pintu pagar sengaja aku tutup, jarang  tak buka kecuali saya ada keperluan untuk keluar.

Tiba-tiba dengan berlari ala anak balita, Ia masuk ke rumah sambil berkata ke saya “Uwal….uwal….uwal…! (tak paham saya apa maksudnya), tapi ia menarik tanganku mengajak saya ke luar. ‘O, keluar!, pikirku…..
Ia kemudian mendekati kursi kecil (dingklik dalam bahasa jawa) dan menunjuk ke arah bawahnya. Aku juga mengikutinya…..
“Uwal!” ia berkata lagi dengan kata-kata yang terdengar masih cadel.
Saya  melongok ke bawah kursi. “Astaghfirullah!” Aku melompat dan meraih Fatih ke gendonganku. Kulihat ada seekor ular kecil yang mengejutkanku bukan kepalang. Entah, ular apa? berbahaya atau enggak?, hanya saja aku takut dengan binatang yang satu ini.
Kemudian saya ambil sebuah pipa untuk menghalaunya ke luar halaman rumah. Jujur saja, aku ga berani kalau harus sampai membunuhnya…..

Kaget…kaget. Bersyukur…Allah masih melindungi kami. Jadi kepikir deh….gimana kalo Fatih ga kasih tahu ke saya, atau malah ia buat mainan yang namanya ular itu. Ga kebayang deh apa jadinya…

Ada manfaatnya juga saya sering googling gambar-gambar(animal, transportation) n menyimpannya di file computer. Biasanya saya atau ayahnya cari gambar bersama Fatih, and buka-buka file gambar yang telah kami simpan. Kami ajarkan nama-namanya. Alhamdulillah, namanya anak kecil cepat sekali belajarnya. Ia mengingat dengan baik…Masha Allah.

Saya ataupun ayahnya sering mengajaknya ke kebun di samping rumah dan membiarkan ia bermain disana, dengan pengawasan tentunya. Sesekali kami mengajak jalan-jalan ke sawah ketika kami pulang kampung.

Saya mengajaknya jalan-jalan ke sawah. Mengamati belalang yang hinggap di rumput gajah

Belalang hijau

Fatih suka sekali mengamati binatang. Mengejar kupu-kupu, belalang, laba-laba, semut, bermain dengan kucing (walaupun aku ga suka ia deket-deket dengan kucing). Terkadang ia bermain-main dengan semut, kemudian “plek” (Ia meneplek semut itu yang kemudian akhirnya mati). Ketika saya bilang, “Jangan dibunuh, Dik! Kasihan!”. Ia hanya bilang, “Titian” (kasihan). Tapi ya tetep suka neplekin semut kemudian bilang ‘titian’. Heehee…anak nie paham maksudnya ‘kasihan’ ga ya???!! Seharusnya kan membiarkan semut tetap hidup jika kasihan….