“Read A Loud” Kontribusi Berharga untuk Anak Kita

Melibatkan anak dalam aktivitas kita membaca buku memberikan kontribusi berhaga untuk perkembangan otak mereka. Apalagi jika kita selalu berusaha meluangkan waktu membacakan buku untuk mereka. Perlu kita ketahui, hubungan antar otak dapat terbentuk melalui stimulasi visual, interaksi bahasa secara  langsung, dan dari kontak fisik dengan orang dewasa yang peduli terhadap anak-anak. Seorang anak  belajar dan mendapatkan manfaat  yang besar dari apa yang dibacakan kepada mereka sejak mereka dilahirkan.

Sekarang ini sudah banyak model buku yang didesain khusus dalam segala macam bentuk, ukuran, bahan yang menarik untuk anak-anak, bahkan untuk mereka yang masih bayi sekalipun. Kita mengenal adanya boardbook, soft book/ baby book, pillow book,  buku dari plastic hingga buku yang disertai suara atau music. Semua usaha menciptakan inovasi tersebut tak lepas dari upaya membentuk citra bahwa membaca buku bukanlah aktivitas yang membosankan, karena membaca buku bisa menjadi kesenangan.

Berikut ini manfaat aktivitas membaca dan “Read A Loud” kepada bayi atau anak-anak:

  • Membantu anak-anak menghubungkan antara kata-kata yang didengar dan makna di belakang kata tersebut.
  • Memberikan dasar yang positif untuk kemampuan pra-membaca anak-anak yang akan membantu proses menjadi pembaca mandiri kelak.
  • Dengan Read A Loud kita mengajarkan banyak ketrampilan dalam  berkomunikasi, antara lain bagaimana berbicara, mendengarkan, dan membaca.
  • Membaca untuk anak-anak dapat memperluas kosa kata mereka, meningkatkan memori, dan memungkinkan mereka untuk berlatih keterampilan mendengarkan.
  • Membacakan untuk anak dengan variasi sumber bacaan mengajarkan  kepada mereka pentingnya kata-kata yang tertulis. Sumber bacaan yang dimaksud bisa buku, kotak sereal, majalah, tanda-tanda jalan, dan kartu ucapan.
  • Buku-buku juga membantu untuk mengembangkan pemikiran dan imajinasi.
    Mereka juga berkontribusi terhadap pengembangan konsep-konsep dasar seperti membaca kata-kata
  • Ketika anak kita menjadi semakin dewasa, dia akan ingin buku yang benar-benar menceritakan suatu
    berikut dari kiri ke sisi kanan halaman kisah dan memiliki akhir yang masuk akal baginya. Buku membantu untuk mengembangkan rentang perhatian balita itu. Mereka berkontribusi untuk anak-anak membentuk kosakata yang kaya dan keterampilan verbal.

Kita juga bisa membuat beberapa tips and trik yang bisa dipastikan membuat anak senang dengan aktivitas membaca ini.

  • Jika kita mempunyai sedikit lagi waktu luang, cobalah membuat buku dari karton tebal dan menyisipkan gambar dari majalah – anak-anak. Pasti mereka akan  menyukainya
  • Memilih buku bayi, sebaiknya pikih yang kuat dan rapi dengan banyak warna primer terang. Bayi juga seperti buku dengan foto-foto yang nyata -
  • Saat anak  kita tumbuh dan menjadi lebih active bergerak, sebisanya kita menggabungkan gerakan dan tindakan yang ada di buku. Sebagai contoh, ketika membaca “Humpty Dumpty” berpura-pura jatuh dengan si kecil adalah saat yang tepat. Mereka segera akan datang untuk mengantisipasi gerakan ini dan benar-benar gembira dengan hal itu. Sungguh luar biasa seberapa cepat mereka belajar rutinitas kecil dan tumbuh untuk mengasihi mereka.
  • Balita cepat mengelompokkan buku favorit dan akan ingin anda untuk membacanya lagi dan lagi. Hal ini mungkin sedikit membosankan bagi kita, tetapi ini penting untuk balita karena mereka menemukan kesenangan besar dalam pengulangan. Ini mendorong mereka untuk mempelajari arti kata-kata yang penting untuk perkembangan bahasa. . Oleh karenanya jangan pernah bosan dengan mengikuti alur mereka belajar
  • Tempatkan buku mudah dijangkau anak Anda, sehingga mereka dapat menikmati melihat mereka sendiri.

Melihat begitu banyak manfaat dari buku dan membacanya, apakah kita akan melewatkannya begitu saja. Jadi mari kita ambil buku , duduk bersama mereka dan berbagi kesenangan dengan membacakan buku untuk mereka.

Sumber lihat di sini

Preschool Skill Checklist

Bagi yang punya anak usia preschool, ceklist di bawah ini bisa membantu kita untuk mengukur sejauh mana perkembangan anak. But yang perlu diingat, perkembangan setiap anak satu dengan yang lain berbeda-beda, oleh karenanya orang tua tak perlu khawatir jika di usia yang sama anak kita belum mampu melakukan hal yang bisa dilakukan anak lain. Bisa jadi ada kelebihan dari anak kita yang tidak bisa dilakukkan oleh anak lain di usianya yang sama.

Berikut ini Preschool Skill Checklist yang sumbernya saya ambil Umm Ibrahim bin Milton.

Preschool Skill Checklist
Children Ages 3.6- 4.0 Years

Nama Anak :_________________ TTL :________________________ Tanggal Pencapaian:_______________
Observer     :______________________________________________

 

Petunjuk : Beri tanda cek untuk setiap item pada kolom yang sesuai target pencapaian

Jarang

Kadang

Selalu

komunikasi      
1. Mengikuti dua perintah yang sekaligus (Letakkan mainan dan ambil buku )      
2. Mengidentifikasi kurang lebih 3 objects berdasarkan kelompoknya (missal: binatang, makanan).      
3. Mengidentifikasi objek berdasarkan suara yang ditimbulkannya(pintu yang tertutup, koin yang jatuh, air mengalir).      
4. Mengucapkan  kata secara jelas (kebenaran mencapai 80%).      
5. Bertanya dengan pertanyaan sederhana      
6. Berkomentar tentang kisah yang dibacakan –memperagakan gerakan , bertanya.      
7. Membuat kalimat secara spontan 3-5 kata.      
8. Menyebut nama depan dan belakang ketika ditanya.      
9. Mengetahui siblings and nama teman.      
10. Hafal kalimat bersajak atau lagu      
Kognitif      
1. Menunjuk  3 bentuk—lingkaran, persegi, segitiga      
2. Mengetahui warna-warna dasar—merah, biru, kuning, hijau      
3. Membilang 1-10      
4. Mengetahui konsep jumlah satu atau lebih dari satu.      
5. Mengetahui konsep banyak atau sedikit.      
6. Mengisi lembar kerja.      
7. Melihat-lihat buku, membolak-balik halaman, menceritakan kisah/ gambar.      
8. Menirukan membuat pola balok sepert yang dicontohkan guru (3 bagian jembanat, 5 kereta warna).      
9. Berimaginasi.(kursi digunakan sebagai mobil-mobilan, kaleng dijadikan topi)      
10. Ikut serta dalam kegiatan kelompok (melingkar, kegiatan seni, makan siang      
Sosial / Emosional      
1. Memberi nama teman      
2. Mengikuti peraturan tanpa harus diingatkan      
3. Menunggu antrian bersama teman dengan pe      
4. Merasa nyaman ketika bertemu dengan orang asing      
5. Senang membantu teman ataupun orang dewasa      
6. bantuan orang dewasa.      
7. Dapat mengekspresikan perasaan secara verbal—mengatakan ketika senang, sedih, marah, takut.      
8. Ramah, dan riang      
9. Menunjukkan rasa kasih sayang kepada orang lain, merasa simpati jika orang lain terluka.      
10. Meminta bantuan ketika menemui kesulitan, sedih, lapar…      
Ketrampilan Mengurus Diri Sendiri      
1. Menggunakan sendok dan garpu ketika makan      
2. Menggunakan serbet untuk mengusap mulut      
3. Melepas baju sendiri      
4. Menggunakan toilet.      
5. Ke toilet secara mandiri.      
6. Menggunakan tisu untuk mengusap hidung      
7. Mengancingkan baju .      
8. Menuang air dari teko ke cangkir.      
9. Mencuci tangan dengan sabun dan mengeringkannya.      
10. Memakai mantel secara mandiri.      
Ketrampilan Motorik Halus-Kasar      
1. Berdiri dengan kaki kanan selama 4      
2. Berjalan di tangga dengan langkah kaki secara begantian      
3. Berdiri dengan kaki kiri selam 4 detik      
4. Menyusun balok 10 atau lebih      
5. Meniru membuat garis tegak dan lurus.      
6. Menggambar lingkaran      
7. Meniru membuat tanda silang      
8. Melompat sebanyak 5 lompatan      
9. Berjalan dengan ujung kaki (berjinjit)      
10. Melempar bola ke depan

Link terkait, silahkan buka yang dibawah ini!
Tree Yearld Old skill checklist

Developmental Checklist for three year olds

Early Childhood Curriculum Standards Checklist

 

Biasakan Sejak Kecil

Menanamkan kebiasaan baik (melakukan pekerjaan ringan seperti menyapu, menata meja, menyiapkan pakaiannya, dll) kepada anak sejak dini ternyata akan berdampak baik terhadap pembentukan karakter anak kelak ketika dewasa. Semakin cepat kita mengajari tugas-tugas rumah tangga kepada anak-anak kita, semakin  besar pula tanggung jawab yang akan mereka miliki, dan semakin sedikit yang kita harus lakukan! Pastinya kita mengharapkan hal-hal besar dari anak-anak kita, seperti rasa tanggung jawab dan kemandirian dan hal itu tidak serta merta dengan mudah kita dapatkan, kecuali kita sebagai orang tua memulai dan mengajarinya dari hal yang paling kecil sekalipun. Anak usia balita sudah bisa lho diajari melakukan tugas-tugas rumah tangga. Berikut ini hal-hal yang bisa dilakukan oleh anak-anak kita. Sumbernya aku lihat di sini

43 Pekerjaan Rumah yang Dapat Dilakukan Anak


Balita Usia18 bulan – 2 tahun
1. Membersihkan meja dengan kemoceng atau lap kering

2. Menempatkan cucian ke tempat yang tepat – beritahu mereka di mana barang-barang tersebut seharusnya         dan lihatlah apakah mereka ingat atau tidak setelah beberapa kali Anda melakukan tugas ini dengan                 mereka.

3. Memasangkan kaus kaki dengan pasangannya. Ketrampilan ini mengajarkan kepada anak konsep “sama”         dan “berbeda”

4. Membawa peralatan makan yang tak terpakai dari meja makan, merapikan meja makan.

5. Meletakkan sesuatu di atas meja (serbet, cangkir)

6. Membereskan mainan – mereka mungkin tidak mau melakukannya, tetapi mereka bisa melakukannya.

7. Membereskan boneka-boneka yang ada di tempat tidur setelah bangun pagi

8. Mendorong keranjang cucian ke ruangan yang tepat

9. Membuang sampah di tempat sampah

10. Meletakkan pakaian dalam keranjang

11. Mengeluarkan belanjaan dari tas belanja

Anak-anak uisa 3 – 5 tahun (Prasekolah)
12. Membersihkan  jendela dengan kain dan botol semprot berisi air

13. Mengatur meja

14. Membersihkan meja

15. Meletakkan piring di wastafel

16.Mengeringkan peraslatan makan

17. Menyapu benda yang berserakan dengan sapu

18. Meletakkan pakaian bersih sesuai dengan tempatnya – ajari mereka bagaimana membawa pakaian yang          sudah dilipat sehingga mereka tidak menjadikannya berantakan

19. Melipat pakaian iyang sederhana – celana jeans dan celana

20. Mengelompokkan pakaian anggota keluarga

21. Membersihkan debu dengan kain kering atau sarung tangan debu

22. Mengelap jendela yang rendah dengan kain lembab

23. Membawa surat kabar dari luar

24. Menyeka noda-noda di lantai dapur dengan kain basah

25. Meletakkan buku di rak buku dengan benar

26. Menyirami tanaman

27. Mencabut rumput yang mengganggu – mengajarkan mana rumput liar, dan mana yang bukan

28. Menata seprei

29. Membantu membawa pakaian kotor ke keranjang cucian

30. Membantu orang dewasa di dapur (menakar, menuang bahan-bahan kering, mengaduk dan mencampur

31. Menggantungkan mantel dan topi

32. Membawa tas belanjaan kecil

33. Membantu mengeluarkan belanjaan dari tas

Anak Usia 5 – 7 tahun
34. Melipat baju dan pakaian mereka. Ajari mereka bagaimana melakukannya, dan jangan mengharapkan               kesempurnaan

35. Menyapu lantai. Beri mereka sapu pendek jika sapu yang biasa terlalu sulit untuk mereka gunakan

36. Mengosongkan tong sampah kecil / tempat sampah ke dalam kantong sampah

37. Merapikan buku di rak buku

38. Membersihkan meja setelah makan

39. Merapikan tempat tidur

40. Menempatkan sesuatu di dalam mobil

41. Memungut sampah dari dalam mobil

42. Memilih pakaian dan mengenakannya tanpa bantuan

43. Membantu menyiapkan makan siang mereka. Membuat sandwich atau sesuatu yang sederhana


Beres-beres yuk!

Senangnya melihat Fatih membereskan mainannya sehabis bermain. Satu persatu masuk ke dalam  keranjang. Building block-nya juga sudah rapi masuk dalam kantongnya. Baru kemudian ia datang kepada saya menagih janji. Sebelumnya ia ingin menggambar dengan pensil warnanya,….Eit tunggu dulu! Mainannya kan belum diberesi. Diberesi dulu yuk, habis itu boleh gambar-gambar! Pintaku….Ia pun menurut.

Dari balik jendela kaca riben aku lihat aktivitasnya membereskan mainannya. Sempat aku shoot video juga supaya aku bisa memperlihatkan padanya nanti. Biasanya ia suka sekali kalo melihatnya….di kesempatan lain kalo ia lagi beres-beres ia bilang: “Kayak Fatih di laptop.” Walopun prosesnya agak lama, karena sambil memasukkan mainan ke keranjang ia sempat aja main dengan mainan yang sedang dipegangnya sambil ngomong sendiri. Pegang mobil….(ngeng…ngeng…ngeng), pengang escavator/ mobil keruk…..(ayo…diangkat pake mobil keruk), hingga selesai lah beres-beresnya dengan bantuan mobil keruk.

Kita-kita Ibu rumah tangga tentu senang dunk, kalo melihat anak-anak mau membereskan mainannya sendiri. Setidaknya kita terbantu dengan adanya hal itu, secara pekerjaan seperti ini menguras tenaga dan waktu. Ato keadaan jadi sebalikknya….anak-anak suka bikin rumah berantakan terlebih lagi ga mau bereskan lagi. Dengan sangat terpaksa Ibupun yang memberesi sambil ngomel-ngomel. Masalah beres-beres inilah yang terkadang membuat pekerjaan Ibu tak kunjung rampung. Beres yang disini….pindah lagi anak-anak di ruangan lain mulai eksplorasinya. Nah yang begini nie yang terkadang bikin IRT stress, jenuh, dan melampiaskan kekesalannya ke anak.

Orang mungkin memaklumi keadaan rumah yang berantakan karena keberadaan anak-anak. Mainan berserakan, buku-buku berceceran, peralatan dapurpun kadang jalan-jalan entah kemana, dan lain sebagainya. Tapi coba deh kita berusaha mengubah paradigma ‘beres-beres tak lagi menjadi monopoli para orang tua terkhusus Ibu’. Anak-anak juga perlu dilatih sedini mungkin.

Kata Ida S. Widayanti, seorang penulis buku, beres-beres setelah bermain penting lho. Selain membangun karakter mandiri, disiplin, dan tanggung jawab, beres-berespun juga sangat menstimulasi kecerdasan. Saat beres-beres, anak banyak belajar hal yang penting untuk kehidupannya.

  1. Anak belajar sebab akibat. Ketika ia membuka sebuah kotak mainan dan mengeluarkannya lalu memebereskannya lagi, ia melihat bahwa segala sesuatu yang ia lakukan akan berdampak  pada lingkungan.
  2. Melatih kemampuan klasifikasi. Saat membereskan mainan kita bisa melatih kemampuan anak mengenali bentuk, ukuran dan warna benda lalu mengelompokkannya. Itulah yang dimaksud klasifikasi. Sebuah kemampuan mengasah kognisi anak sekaligus mengenalkan konsep salah dan benar.
  3. Anak belajar tentang mengawali dan mengakhiri (start and finish) sebuah kegiatan. Mereka belajar focus dan tuntas terhadap sebuah kegiatan, serta masih banyak lagi manfaat yang lain.

Masih kata beliau lagi, ada kiat-kiat mengajarkan masalah beres-beres ini pada anak.

Pertama, sejak bayi biasakan anak melihat suasana yang rapi. Penataan pakaian dan mainan yang rapi akan membuat mata anak terbiasa dan merasa nyaman dengan kerapian.

Kedua, biasakan anak-anak melihat proses beres-beres dan jelaskan pada mereka urutannya. Hindari beres-beres saat anak sedang tidur, karena anak akan menganggap segala sesuatu akan beres dengan sendirinya.

Ketiga, ajak anak-anak beres-beres segera setelah bermain. Libatkan secara bertahap dari yang paling sederhana, misalnya memasang tutup mainan atau mendorong laci mainannya.  Selanjutnya, bersamaan dengan meningkatnya usia anak, kita bisa meningkatkan keterlibatan anak dalam beres-beres lebih jauh lagi sampai ia mandiri.

Melatih kebiasaan ‘beres-beres’ sejak dini sangat banyak manfaatnya. Menurut seorang ahli pendidikan, jika anak-anak sudah terbiasa beres-beres dalam hal kongkrit -seperti mainan dan peralatan- kelak ia juga akan terbiasa beres-beres dalam hal yang abstrak. Ketika ada masalah dengan apapun ia akan segera membereskannya (menyelesaikannya). Beres-beres yuk!!!!

 

My Terrible Two

Akhirnya sampai juga saya menghadapi si ‘Terrible two”. Kata para pakar ada masa-masa dimana seorang anak berubah perilakunya, menjadi lebih agresif dan susah dikendalikan. Senyum yang memberikan kebahagiaan  berganti dengan temper tantrum yang mengesalkan. Tawa yang mengguncang dunia itu berganti dengan rengekan yang bikin pusing kepala. Kaki-kaki kecil itu dapat berlari kemana saja ia mau dan membuat Anda terengah-engah mengejar. Dari orangtua yang bangga dan bahagia, sekarang Anda menjadi polisi yang  kekurangan energi. Masa-masa menggemaskan bayi Anda telah lewat dan mau tidak mau Anda menghadapi masa yang di sebut‘terrible two’. 

Beberapa pekan terakhir ini saya mendapati ada perubahan terhadap perilaku Fatih. Ia yang biasanya penurut, mudah diberi pengertian menjadi susah dikendalikan dan cepat putus asa. Menangis sambil berteriak-teriak kalo keinginannya ga dituruti jadi moment yang sering kali saya hadapi, melakukan hal-hal yang kadang sampai membuat saya berteriak histeris karena khawatir akan bahaya yang menimpanya, situasi yang terkadang  membuat jengkel karena ulahnya, sampai perasaan malu melihat ulah ‘konyolnya’ (pandangan orang dewasa) dan sangat tidak sopan. Kata-kata ‘jangan’ seolah jadi perintah ketika saya sedang melarang. Misalkan, ‘Jangan lari!, eh ia malah tambah ngibrit. Menyiramkan air di makanan ketika kami sedang makan sudah biasa, makanya kami tetap waspada untu tidak menaruh minuman disamping kami. Manjat-manjat kursi, di dekat kompor yang menyala, padahal saya sudah member peringatan akan bahayanya. Membuat ayahny tak bisa berkutik kalo di rumah walo hanya sekedar tilawah ataupun baca buku karena ia hanya ingin main-main dan main kalo ayahnya di rumah……(Sebenarnya Wajar  kalo ia selalu mengajak main kalo ayahnya di rumah, coz seharian hanya bersama Ibunya), Yang paling menggemaskan nih, saat ini tidurnya tambah larut malam…..padahal mata ibunya sudah tinggal beberapa watt, sedangkan ayahnya harus seringkali lembur kalo lagi kena deadline (Lembur di rumah tentu tak bisa, karena setiap pegang lepi seringnya diambil alih Fatih untuk liat kereta api asap). Dan jalan terakhir ayahnya harus ngungsi ke kantor dulu, sampai Fatih bobok. Itupun juga tak lekas bobok, coz ia selalu bermain-main dulu walopun saya sudah beranjak ke tempat tidur ‘pura-pura bobok’.

Selama ini kami memang menikmati setiap polah tingkahnya yang lucu. Celotehnya yang menggemaskan. Tapi sekarang ini ada saja hal yang terkadang membuat kami harus banyak-banyak mengelus dada, beristighfar dan selalu mendoakan atasnya kebaikan.

Pernah suatu ketika,  seperti biasanya ayah Fatih pulang ke rumah untuk makan siang (kebetulan kantornya dekat). Fatih baru saja selesai saya suapi. Jadi saya dan ayah bisa makan siang bareng dalam 1 piring. Kami makan di lantai teras (karena ga ada meja n kursi nih…..dan lebih nyaman lagi walo di teras depan rumah tapi ga kelihatan dari jalan). Tiba-tiba, pas di tengah-tengah acara makan, saya lihat seperti semprotan air, sewaktu saya menoleh kea rah datangnya. Astagfirrullah!!! Fatih buang air kecil ke arah kami hingga kami semua basah berikut makanannya. Kaget!!!.. bukan main….. perasaan jengkel pun ga bisa kami sembunyikan, namun kami coba tetap redam amarah…..(mo marah gimana coba???…..ngomel-ngomel, bentak-bentak, ah tidak bijak rasanya…..He’s just a kid. Acara makan siang sempat tertunda dengan kejadian nih. Baru ketika ketika suasana hati sudah agak reda, kami mencoba member pengertian dia bahwa perbuatan tersebut enggak bagus, ga boleh diulangi. ‘Kan dah di ajari kalo buang air di toilet, ngerti nggak Fatih? Tanyaku kemudian menegaskan. Jawabnya, ‘ngerti’ (sambil pringas pringis)…..^_^

Mungkin tidak hanya kami saja yang mengalami masa-masa sulit bersama si Kecil, tetapi semuanya adalah sebuah proses yang sangat berharga ketika kita bisa melaluinya. Tentu perlu diingat pula, walaupun disebut ‘terrible two’ tidak semua anak merepotkan orangtuanya di usia ini. Berikut, untuk menjadi orangtua yang lebih baik seringkali tidak datang secara alami, dalam arti kita juga harus belajar dan berlatih. Sama dengan anak kita yang belajar untuk mengenal dunia dan menaklukkannya tahun demi tahun, orangtua juga belajar untuk mengembangkan kemampuan parenting mereka.

Bagi yang memiliki anak Batita (1-3) tahun ada baiknya mencoba untuk mempraktekkan teknik-teknik di bawah ini. (Sumbernya liat di sini!)

1. Bangun Pembatas Masa Depan Sekarang

Meskipun setiap anak berbeda dalam menaati batasan yang kita buat tapi kita harus memilikinya. Batasan sebenarnya memberikan rasa aman kepada anak kita. Dengan itu mereka mulai belajar untuk membedakan yang baik dan tidak baik, antara yang boleh dan tidak boleh. Berhasilnya orangtua untuk membuat batasan yang benar, sederhana dan mudah diikuti bukan saja akan mempengaruhi jiwa anak pada saat mereka beusia dua tahun tapi ini juga akan membantu mereka untuk menentukan batasan sepanjang hidup mereka.

2.  Serius Jalankan Atau Tinggalkan

Tetap konsisten tidaklah segampang membuat batasan. Misalnya kita membuat aturan “Makan harus duduk di meja makan”, hari ini bisa dikerjakan tapi belum tentu besok kita akan tetap bertahan dengan aturan ini. Bagaimana dengan satu bulan kemudian? Atau bagaimana kalau anak kita harus diasuh nenek yang punya aturan yang berbeda?

Oleh karena itu jangan pernah membuat aturan jika Anda tidak serius menjalankannya.  Dua atau tiga aturan yang konsisten dijalani lebih baik dari dua puluh tiga aturan yang mudah dilanggar.

3. Ijinkan Einstein Lahir di Rumah Anda

Seringkali rasa ingin tahu anak kita yang berotak Einstein disalahtafsikan sebagai kenakalan. Banyak orangtua yang melarang anak mereka melakukan sesuatu tapi tidak memberikan sarana pengganti untuk menyalurkan bakat jenius mereka.

Ketika anak kami Joel mencoret-coret dinding apartemen sewaan kami yang putih bersih, saya sempat sewot. Saat itu saya belum sepenuhnya menyadari kalau anak kami sedang mencari cara untuk menyalurkan bakatnya. Melarangnya membuat karya seni di dinding adalah benar hanya kalau kita memberikannya  cara lain yang lebih baik. Akhirnya kami memberikan buku gambar, papan gambar, meja gambar, atau apa saja yang dapat mengalihkan perhatiannya untuk menggambar di dinding rumah.

Ijinkan anak-anak kita menyalurkan energi mereka secara positif. Berikan wadah untuk mereka berkarya. Izinkan mereka bermain di luar rumah dan berteriak sesuka mereka jika tempatnya memungkinkan. Bawa mereka ke tempat bermain anak-anak semampu kita dan biarkan mereka mengeksplorasi  dengan bebas. Biarkan mereka menikmati masa kanak-kanak pada waktu mereka masih kanak-kanak. Dan jika kita berkata ‘jangan’, berikan selalu alternatif lain yang ‘boleh’.

4. Wujudkan Kasih Sayang Lewat Tindakan

Saya sering bertemu dengan orangtua yang kelihatannya lebih bermasalah dalam hal tantrumdari anak mereka. Mereka berteriak, membentak, mengancam, bahkan memukul. Tanpa disadari, anak-anak mereka belajar  dari apa yang mereka lakukan. Jangan heran kalau anak-anak ini juga belajar untuk mengkspresikan emosi mereka secara negatif dan penuh kekerasan. Akhirnya, lingkaran setan ini menjadi pola hubungan atara orangtua – anak, atau antara anak dengan teman-temannya.

Orangtua yang tetap tenang dan lembut meskipun anak mereka sedang tantrum, adalah model yang terbaik dalam pembentukan kepribadian anak. Kasih sayang itu lemah lembut dan panjang sabar, sebenarnya prakteknya dapat dimulai dari mendidik anak-anak kita.

Penulis adalah seorang konselor profesional dan juga penulis buku “Turning Hurt Into Hope”(Metanoia 2009).

Saya copas juga dari sini artikel terkait tentang tantrum and terrible two.

Terrible Two

Tangisan anak itu suara musik alam yang indah. Memang kalau mendengar suara
bayi menangis berjam-jam maka akan menimbulkan rasa cemas dalam diri kita,
tetapi kalau anak 2 tahun menangis berjam-jam tidak berhenti padahal segala
cara sudah kita keluarkan untuk membujuknya, biasanya kejengkelan
lingkunganlah yang akan muncul. Pada akhirnya cara kekerasan baik secara
fisik maupun verbal berupa nada ancaman sering dicobakan untuk menjadi
‘senjata pamungkas’.

The Terrible Two adalah julukan yang sering dilontarkan untuk si 2 tahun
yang memang sudah mulai sering menentang dan banyak ulah. Negativistic &
Tantrum yaitu bersikap negatif, semau gue, tidak mau diatur, keras kepala,
di sisi lain suka merajuk, mudah mengamuk dan emosional memang merupakan
ciri perkembangan si 2 tahun. Memang untuk perkembangan sampai usia 5 tahun,
masa 2 tahun merupakan masa yang paling sulit, di mana sering terjadi suatu
transisi dari anak yang manis menjadi anak yang penentang dan terlihat
‘nakal’ di mata lingkungannya. Masalahnya sebenarnya terletak pada orangtua,
bagaimana trik-trik yang dimilikinya untuk ‘mengelola’ anak sehingga menjadi
manis dan penurut kembali.

Menurut Hans Grothe, seorang psikolog perkembangan dari Jerman, sebenarnya
tangisan dan teriakan tantrum anak ternyata tidak berkaitan dengan usia. Tak
hanya si 2 tahun yang melakukannya, si 3 atau 5 tahun pun kadang-kadang
masih melakukannya. Memang frekuensi yang terbanyak adalah pada si 2 tahun.
Menurutnya ada 3 kunci untuk meredakan tangisan anak yaitu ketenangan,
ketenangan dan ketenangan. Tentu saja dalam tiga tataran yang berbeda-beda.
Dan kemampuan ini tidak begitu saja jatuh dari langit melainkan para
orangtua harus melatih dan belajar melihat reaksi anak.

Menjadi orangtua sebenarnya seperti seorang peneliti di laboratorium.
Mencoba sebuah formula pola asuh, memecahkan masalah sesuai dengan budayanya
serta kemudian melihat reaksi yang terjadi dengan dicobakan formulanya.
Apabila tidak cocok dan reaksi buruk maka harus dicobakan formula yang lain
sampai cocok. Dan biasanya formula yang cocok untuk satu anak belum tentu
cocok untuk anak yang lainnya. Jadi berlatih dan belajar menjadi peneliti
adalah tugas orangtua agar sukses mendidik anak-anaknya. Beberapa formula
ini silakan dicoba.

Tenang, Tenang dan Tenang
Kunci meredakan tangisan dan teriakan anak adalah bersikap tenang dan tidak
perlu tergesa-gesa. Tidak perlu panik dan jengkel bila si 2 tahun meledak
tangisnya. Orangtua yang nampak gelisah atau memendam kemarahan tentu akan
sulit menerima kondisi si kecil yang juga sedang tidak nyaman dengan
tangisannya sendiri. Anak membutuhkan figur yang tenang dan mampu
mengendalikan emosinya ketika mendekati anak. Kontrol emosi Anda akan
membuat suatu ruang toleransi apapun reaksi tambahan yang akan dikeluarkan
anak. Latihan bagi para orangtua untuk mencapai ketenangan adalah dengan
pernafasan perut, minum segelas air putih, mencuci muka dan yang penting
empati pada keadaan anak bahwa kita harus membantunya keluar dari tangisan
dan situasi yang sedang tidak mampu dikendalikannya.

Sentuhan
Bagi anak, ketenangan dapat dicapai dengan mudah melalui suatu sentuhan.
Jadi apabila Anda tenang dan siap menghadapi si 2 tahun tanpa bersikap
emosional, belaian pada rambut usapan pada punggung, memeluknya ke pangkuan
atau menggedongnya ke tempat yang lebih tenang, akan menenangkannya segera.

Meskipun demikian kalau tangisan menghantam emosinya begitu kuat terhadang
sentuhan justru mengganggunya dan membuatnya marah, tentu jangan memaksa.
Biarkan kemarahannya reda terlebih dalu, berikan waktu anak meredakan emosi
dan kemarahan serta ketidaknyamanan yang dirasakannya. Lalu pelan-pelan dan
setahap demi setahap dekati dan tunjukkan ketenangan dan sentuhan Anda.

Alihkan Perhatian dan Bersikap ”Tuli”
Sekali lagi perlu diingat 2 tahun adalah masa sulit, dan penuh tantangan.
Terkadang anak begitu sukar dikendalikan, bahkan menolak untuk disentuh atau
diberi perhatian. Sekali lagi jangan memaksakan diri. Cara yang jitu menurut
banyak ahli perkembangan anak adalah bersikap ”tuli” pada tangisannya dan
mengalihkan perhatian kita agar tidak terganggu dengan tangisannya. Misalnya
pura-pura ke dapur untuk memasak, memperhatikan burung yang terbang atau
mengomentari mobil yang lewat. Untuk itu diperlukan kecepatan berpikir dan
improvisasi kita. Biasanya anak akan terpengaruh dan melupakan tangisannya
karena tertarik dengan hal baru di sekitarnya. Selamat melatih diri untuk
menjadi orangtua yang tenang, tenang, dan tenang…!

 

Menyapih

Tulisan berikut di ambil dari blog Ummu Sumayyah (Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya dan juga keluarganya). Semoga bermanfaat!

 

Menyapih Ala Islam

Banyak orang yang mengira setelah anak mencapai usia tepat dua tahun, maka ia wajib disapih. Bagaimana pun caranya akan dilakukan ibu agar anaknya berhenti menyusu pada usia itu, mulai dari mengolesi puting dengan sesuatu yang tidak disukai anak seperti jamu, saos, lipstik, bahkan sampai membiarkannya menangis berjam-jam. Hal ini tidak lepas dari keinginan para ibu (dalam hal ini yang muslimah) untuk menjalankan perintah Allah yang disebutkan dalam Al Qurán agar ibu menyusui anaknya dengan sempurna yaitu selama dua tahun. Maka mereka mengira wajib bagi setiap ibu untuk menghentikan menyusui anaknya yang telah mencapai dua tahun seketika itu juga, bagaimanapun caranya. Benarkah demikian? Apa yang dimaksud para ulama bahwa tidak ada penyusuan setelah dua tahun? Mari kita simak dalil-dalil dalam Al Qurán dan As-Sunnah seputar penyusuan yang sempurna dan penyapihan.

Islam Mengajarkan untuk Menyayangi Anak-anak

Tidak diragukan lagi bahwa Islam sangat memperhatikan anak-anak. Itu ditunjukkan dari perilaku Nabi Muhammad -shallallahuálayhi wa sallam- yang sangat sayang kepada anak-anak. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah memperpendek sholatnya karena mendengar anak yang menangis. Beliau bersabda,  “Aku melakukan sholat dan aku ingin memperpanjang bacaannya, akan tetapi tiba-tiba aku mendengar suara tangis bayi sehingga aku memperpendek sholatku karena aku tahu betapa gelisah ibunya karena tangis bayi itu.” [1]

Dan pernah Nabi -shallallahuálayhi wa sallam- ketika berkhutbah melihat kedua cucu beliau Hasan dan Husain –radhiyallahu ‘anhuma- menghampiri beliau, maka beliau turun dari mimbar dan menggendong keduanya ke atas mimbar, beliau pun bersabda,  “Sesungguhnya aku melihat kedua anak ini berjalan dan jatuh, aku tidak sabar hingga turun mengambil keduanya.” [2]

Lihatlah bagaimana anak-anak dapat mempengaruhi pelaksanaan perkara sebesar sholat dan khutbah. Dan masih banyak lagi kisah tentang bagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih sayang. Sesungguhnya telah ada pada beliau suri teladan yang baik. [3] Maka demikian pulalah Islam mengajarkan umatnya melalui Nabi Allah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tersebut agar menyayangi anak-anak, bahkan dari sebelum anak itu lahir sampai setelah dilahirkan.

Pemberian ASI selama Dua Tahun dalam Islam

Salah satu bentuk kasih sayang yang diajarkan Islam adalah penyusuan atau pemberian ASI (air susu ibu) kepada anak yang baru lahir hingga dua tahun.

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 233: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Ayat di atas menjelaskan tentang anjuran kepada para ibu untuk menyusui anak-anak mereka hingga dua tahun, dan dibolehkan bagi mereka untuk mencarikan ibu susu bila mereka mau. Ini menunjukkan betapa perihal pemberian ASI ini bukanlah hal yang sepele, sampai-sampai anjurannya tercantum dalam Kitab Suci umat Islam. Dan rahasia mengapa Allah menyebutkan “dua tahun” sebagai masa menyusui yang sempurna maka hanya Allah saja lah yang tahu. Namun manusia kini mengetahui tentang manfaat yang luar biasa dari pemberian ASI selama dua tahun. Hal itu diperkuat dengan anjuran dari WHO kepada para ibu di seluruh dunia, tidak hanya yang muslimah, untuk menyusui anak-anak mereka yang disebutkan selama dua tahun pula.

Dan Nabi -shallallahuálayhi wa sallam- sebagai pembawa risalah ini, tidak pernah melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang telah beliau bawakan.

Dalam sebuah hadits shahih yang panjang yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim, disebutkan ada seorang perempuan yang telah berbuat zina. Lalu datanglah ia kepada Rasulullah –shallallau’alaihi wa sallam- untuk bertobat. Namun Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menolak pengakuan perempuan tersebut. Keesokannya perempuan itu datang lagi dan berkata bahwa ia telah hamil akibat perbuatan zina tersebut. Lalu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyuruhnya pulang sampai melahirkan. Setelah melahirkan, perempuan itu datang lagi sambil membawa bayi laki-lakinya yang dibungkus dengan secarik kain. Dia mengatakan bahwa bayi itu adalah bayi yang telah dia lahirkan. Lalu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,  “Pulanglah kamu dulu dan susuilah dia sampai kamu menyapihnya.” Setelah tiba masa menyapih, perempuan itu datang lagi membawa bayinya dan di tangan bayi itu ada sepotong roti. Dia mengatakan bahwa ia telah menyapih anaknya dan dia sudah bisa memakan makanan. Akhirnya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyerahkan bayi tersebut kepada salah seorang sahabat, kemudian beliau mengeluarkan perintah supaya dilaksanakan hukuman terhadap perempuan tersebut. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kemudian memerintahkan agar jenazah perempuan tersebut diurus, dan beliau pun menyolatinya dan menguburkannya. [4]

Lihatlah betapa pedulinya Islam terhadap pemeliharaan seorang bayi yang masih dalam kandungan sampai dia dilahirkan untuk kemudian disusui sampai disapih. Sungguh hanya orang-orang bodoh yang  berpendapat bahwa Islam telah berbuat kezhaliman melaksanakan hukuman tersebut kepada sang ibu. Padahal justru sebaliknya, Allah menyayangi hambaNya yang bertaubat, dan Dia tidak menginginkan hambaNya hidup lebih lama karena dia bisa saja melakukan dosa lagi. Ketahuilah bahwa perempuan itu diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan beruntunglah sang anak karena telah lahir ke dunia ini dengan selamat, mendapatkan ASI penuh hingga dua tahun, dan disusui oleh ibunya sendiri yang telah bertaubat.

Dalam riwayat lain disebutkan,  “Sesungguhnya dia telah bertobat dengan sungguh-sungguh. Seandainya tobat perempuan ini dibagi-bagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, maka hal itu masih cukup. Pernahkah kamu menemukan tobat yang lebih baik dibandingkan apa yang dilakukan perempuan ini? Dengan jujur dia menyerahkan dirinya supaya dilaksanakan hukuman Allah atasnya.” [5]

Hanya Allah pemberi taufik dan hidayah.

Penyapihan: Wajib Tepat Dua Tahun?

Dalam tafsir Ibnu Katsir, ketika menjelaskan surat Al Baqarah ayat 233 tentang anjuran pemberian ASI, disebutkan, “Ini adalah bimbingan dari Allah Taála bagi para ibu supaya mereka menyusui anak-anaknya dengan sempurna, yaitu dua tahun penuh. Dan setelah itu tidak ada lagi penyusuan.”

Yang dimaksud dengan “setelah itu tidak ada lagi penyusuan” adalah bahwa penyusuan yang terjadi setelah anak mencapai dua tahun itu tidak dianggap “penyusuan”. Hal ini berkaitan dengan hukum mahram yang terjadi antara anak dengan ibu susu, seperti yang dijelaskan dalam tafsir tersebut. Rasulullah –shallallahu álaihi wa sallam- bersabda,  “Tidak menjadikan mahram akibat penyusuan, kecuali yang dilakukan kurang dari dua tahun.” [6] Dan dalam riwayat lain disebutkan dengan tambahan, “Dan penyusuan setelah dua tahun itu tidak mempengaruhi apa-apa.” [7]

Kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa penyusuan atau pemberian ASI yang sebenarnya adalah dalam kurun waktu dua tahun, sedangkan yang setelahnya tidak dianggap “memberi ASI”. Karena seperti yang disebutkan dalam hadits lain, “Sesungguhnya penyusuan itu karena rasa lapar.” [8] Maka pemberian ASI kepada seorang anak sebelum dua tahun dianggap karena ia merasa lapar, sedangkan yang setelahnya tidak dianggap demikian. Dan memang seperti yang dijumpai di dalam realita, bahwa anak-anak yang telah mencapai dua tahun atau lebih yang masih menyusu kepada ibunya adalah memang bukan karena mereka merasa lapar, melainkan karena mereka masih ingin selalu bersama ibunya, dalam pelukannya sambil “menyusu”.

Dan ini merupakan merupakan salah satu contoh lain dari kasih sayang yang diajarkan Islam, Alhamdulillah. Tidak diwajibkannya menghentikan penyusuan atau menyapih setelah anak mencapai usia dua tahun merupakan bukti dari betapa Islam memperhatikan anak-anak. Allah telah menakdirkan kesulitan bagi seorang anak untuk begitu saja lepas dari dekapan ibunya, begitu juga sebaliknya, betapa sulitnya ibu melepaskan anaknya dari dekapannya.

Memahami surat Al Baqarah ayat 233 di atas sebagai dalil wajibnya menyapih terhadap anak yang telah mencapai usia dua tahun adalah tidak tepat. Karena ayat di atas tidak berbicara tentang hal itu, melainkan tentang anjuran agar para ibu menyusui anaknya hingga penyusuan itu sempurna yaitu hingga dua tahun. Seandainya yang dimaksud adalah demikian, maka tentu akan kita dapatkan penjelasan ulama tentang hal ini, namun tidak ada satupun penjelasan ulama mengenai hal tersebut. Yang ada justru apabila penyapihan dilakukan sebelum dua tahun, yaitu bila memang ada suatu sebab yang tidak memungkinkan untuk terus melakukan penyusuan hingga sempurna selama dua tahun maka hal itu dibolehkan, yang berarti perkara penyusuan hingga dua tahun ini adalah suatu hal yang amat dianjurkan, bahkan dalam literatur Arab, anjuran tersebut bermakna lebih kepada perintah.

Ada satu kisah yang insya Allah dapat menjelaskan hal ini, yaitu kisah Ummu Sulaim yang dikenal sebagai shahabiyyah yang hidup di zaman Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, teladan wanita shalihah, ibu dari Anas bin Malik –radhiyallahu ’anhu- yang merupakan salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi w sallam-

Ketika Islam bersinar di muka bumi, cahayanya sampai di hadapan Ummu Sulaim, maka yang pertama kali dia dakwahi adalah keluarganya, yaitu suaminya. Namun suaminya menolak, hingga ia mati dalam keadaan kafir. Ketika Ummu Sulaim mengetahui suaminya terbunuh, ia tetap tabah dan mengatakan, ”Aku tidak akan menyapih Anas hingga dia sendiri yang memutuskannya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku.” [9]

Dari kisah di atas dapat kita ketahui bahwa kemungkinan ketika itu Anas bin Malik masih kecil dan masih menyusu. Seandainya penyapihan wajib dilakukan ketika anak berusia dua tahun, maka tentu Ummu Sulaim tidak akan mengatakan bahwa ia tidak akan menyapih Anas sampai anaknya itu sendiri yang memutuskan. Karena bila demikian halnya maka Ummu Sulaim telah menyelisih syariat Islam, yang tentunya hal itu akan mendapat teguran dari Nabi-shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang masih hidup di zaman itu. Namun tidak ada keterangan dari para ulama mengenai hal ini, sedangkan kisah ini mahsyur di kalangan mereka. Wallahua’lam.

Cara Menyapih yang Diajarkan Islam

Tidak disebutkannya kewajiban menyapih di usia tepat dua tahun, bukan berarti anak seterusnya tidak disapih. Tentu saja, bagi siapa saja yang ingin menyapih anaknya tepat di usia dua tahun, maka itu adalah yang terbaik karena telah disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 233 bahwa penyusuan hingga dua tahun adalah penyusuan yang telah sempurna. Namun bagimana cara menyapihnya adalah dikembalikan kepada orang tua masing-masing.

Namun salah satu faidah yang dapat kita ambil dari ayat tersebut tentang penyapihan sebelum dua tahun, adalah bahwa hal itu haruslah dilakukan dengan kerelaan dan musyawarah antara ayah dan ibu. Karena tidak jarang penyapihan ingin dilakukan oleh sang ibu saja, karena sudah lelah, kerepotan atau karena alasan lain, ataupun ayah saja yang menginginkannya karena tidak ingin ikut-ikutan repot, atau agar istrinya bisa merawat diri, dan lain-lain. Maka tidak menutup kemungkinan penyapihan setelah anak mencapai dua tahun pun seharusnya dengan kerelaan dan musyawarah antara ayah dan ibu. Ditambah lagi anak yang yang telah berusia dua tahun pun sudah bisa diajak bermusyawarah, maka tentu adalah hal yang sangat terpuji bila penyapihan dapat dilakukan dengan kerelaan sang anak pula. Apalagi Islam telah mengajarkan melalui Nabi Allah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- agar menyayangi anak-anak. Maka apakah menolak menyusui anak dan membiarkannya menangis adalah kasih sayang yang diajarkan Islam, sementara Nabi –shallallahu’alayhi wasallam- pernah memperpendek sholatnya karena mendengar seorang anak yang menangis?

Allah berfirman dalam surat Luqman ayat 14: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Ayat di atas menunjukkan bahwa semua yang telah dilakukan oleh orang tua mulai dari ibu yang mengandung, melahirkan, pemberian ASI yang sempurna hingga penyapihan adalah jasa yang karenanya wajib bagi setiap manusia berbakti dan bersyukur kepada kedua orangtuanya setelah ia berbakti dan bersyukur kepada Allah. Maka jadikanlah jasa ini sebagai kenangan indah yang akan dikenang baik oleh anak-anak hingga mereka besar nanti.

Menyapihlah dengan kasih sayang, sebagaimana Islam telah mengajarkan kasih sayang.

Wallahua’lam.

Footnote:

  1. HR Bukhari dan Muslim.
  2. HR. Abu Dawud.
  3. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab:21)
  4. Dari Buraidah, “Suatu ketika ada seorang wanita Ghamidiyah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, diriku telah berzina, oleh karena itu sucikanlah diriku.” Tetapi untuk pertama kalinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghiraukan bahkan menolak pengakuan wanita tersebut. Keesokan harinya wanita tersebut datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa anda menolak pengakuanku? Sepertinya engkau menolak pengakuanku sebagaimana engkau telah menolak pengakuan Ma’iz. Demi Allah, sekarang ini aku sedang mengandung bayi dari hasil hubungan gelap itu.” Mendengar pengakuan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya kamu ingin tetap bertaubat, maka pulanglah sampai kamu melahirkan.” Setelah melahirkan, wanita itu datang lagi kepada beliau sambil menggendong bayinya yang dibungkus dengan kain, dia berkata, “Inilah bayi yang telah aku lahirkan.” Beliau lalu bersabda: “Kembali dan susuilah bayimu sampai kamu menyapihnya.” Setelah mamasuki masa sapihannya, wanita itu datang lagi dengan membawa bayinya, sementara di tangan bayi tersebut ada sekerat roti, lalu wanita itu berkata, “Wahai Nabi Allah, bayi kecil ini telah aku sapih, dan dia sudah dapat menikmati makanannya sendiri.” Kemudian beliau memberikan bayi tersebut kepada seseorang di antara kaum muslimin, dan memerintahkan untuk melaksanakan hukuman rajam. Akhirnya wanita itu ditanam dalam tanah hingga sebatas dada. Setelah itu beliau memerintahkan orang-orang supaya melemparinya dengan batu. Sementara itu, Khalid bin Walid ikut serta melempari kepala wanita tersebut dengan batu, tiba-tiba percikan darahnya mengenai wajah Khalid, seketika itu dia mencaci maki wanita tersebut. Ketika mendengar makian Khalid, Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tenangkanlah dirimu wahai Khalid, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertaubat, sekiranya taubat (seperti) itu dilakukan oleh seorang pemilik al-maks niscaya dosanya akan diampuni.” Setelah itu beliau memerintahkan untuk menyalati jenazahnya dan menguburkannya.” (HR. Muslim no. 1695)
  5. HR Muslim (1696) kitab al Huduud, at Tirmidzi (1453) kitab al Huduud, Ibnu Majah (2555) Kitab al Huduud, Abu Dawud (4440), kitab al Huduud, Ahmad (19360). Lihat Shohih at Tirmidzi, oleh Al Albani.
  6. HR Ad-Daruquthni, dari Ibnu Abbas –radhiyallahu’anhu-. Kemudian Ad Daruquthni mengatakan: “Hadits tersebut tidak disandarkan pada Ibnu Uyainah kecuali oleh al Haitsam bin Jamil, dan ia adalah seorang yang dapat dipercaya dan eorang hafizh. Berkenaan dengan hal ini Ibnu Katsir mengatakan: “Hadits ini terdapat dalam kitab al Muwattha’, Imam Malik meriwayatkan dari Tsaur bin Yazid, dari Ibnu Abbas, secara marfu’. Juga diriwayatkan oleh Ad Darawardi dari Tsaur, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dan ia menambahkan: “Dan penyusuan setelah dua tahun itu tidak mempengaruhi apa-apa.”
  7. baca footnote sebelumnya.
  8. HR. Bukhari (5102), Muslim (1455), an Nasa-i (3312) kitab an Nikaah, Ahmad (24111). Dishohihkan oleh Al Albani, lihat Irwaa-ul Gholiil (2151).
  9. NisaHaular Rasul karya Mahmud Mahdi Al-Istambuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi.

Sumber Bacaan:

  • Al Qur’an Digital
  • Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir Pustaka Imam Syafi’i
  • Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Darul Haq
  • Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, Imam Ash-Shan’ani, Darus Sunnah
  • Al Wajiz, Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Pustaka As Sunnah
  • Sukses Mendidik Buah Hati Sejak Dini, Nauroh binti Muhammad Sa’id, Al Qowam
  • Menanti Buah Hati & Hadiah Bagi yang Dinanti, Abdul Hakim bin Amir Abdat, Pustaka Mu’awiyah
  • Hadiah Terindah untuk Si Buah Hati, Abu Ubaidah bin Mukhtar Al Atsari, Media Tarbiyah
  • http://www.almanhaj.or.id
  • http://www.thalib.wordpress.com
  • http://www.asysyariah.com

Menjadi Pendidik Ideal

Setiap orang tua adalah pendidik bagi putra-putrinya. Sudah barang tentu mereka dituntut untuk berusaha menjadi pendidik yang ideal buat mereka. Saya tulis catatan ini sebagai pengingat ketika saya sudah ada tanda-tanda kehilangan arah dan tujuan dalam mendidik anak, atau ketika saya kehilangan kesabaran dalam menghadapi perilaku mereka, atau ketika saya ingat bahwa saya telah mengabaikan mereka. Continue reading